Jika Aku Diminta Menggambar

June 10th, 2007 by wisnuak

jika aku diminta menggambar

akan kugambar matahari yang di atasnya

anak-anak kecil riang berlari

jika aku diminta menggambar

akan kugambar bulan

yang di atasnya wanita-wanita

tengah membelai lembut anaknya

jika aku diminta menggambar

akan kugambar bumi

yang di atasnya lelaki-lelaki

tegar mengajari anaknya menyikapi kehidupan

Kepada Putriku Samudra Puspa Kenanga

June 10th, 2007 by wisnuak

*Puisi ini semoga menjadi doa agar aku dikaruniai anak perempuan yang shalihah

Duduklah di sini anakku

di samping ayahmu

biar kucium keningmu

yang menceritakan padamu tentang cinta

bahwa apa yang dinamakan cinta

tak serumit yang kaubayangkan

karena sejak semula keberadaanmu pun karena cinta

maka tak perlu kau bersusah payah memahaminya

cukup kau ceburkan dirimu pada telaga semesta

yang memantulkan ketenangan

jangan kau terjebak pada banyak telaga yang memikat

menimbulkan gelora

maka satukan dirimu anakku

pada telaga semesta itu

nanti akan ada bunga-bunga yang mengalir menghampirimu

ciumlah harumnya

dan rawatlah yang terharum pada pojok terindah hatimu

jika kau telah siap untuk itu

Merapatlah lebih dekat anakku

sandarkan kepalamu ke dada ayahmu

agar dapat kau dengar detak jantungku

yang menceritakan padamu tentang hidup

bahwa apa yang dinamakan hidup tak sesederhana yang kaubayangkan

karena sejak semula kehidupan ini tak pernah kita inginkan

maka bercerminlah anakku

pandangi seluruh tubuhmu

akan kaudapatkan dari setiap lekukan itu

makna terpenting dari hidupmu

bahwa kau akan menjadi seorang ibu !

Merapatlah lebih dekat lagi anakku

biarkan rambutmu tergerai di bahu

agar dapat kubelai hitam rambutmu

yang menceritakan padamu tentang kebanggaan

bahwa apa yang dinamakan kebanggaan

bukanlah mengejar kesamaan

mengorbankan citra dirimu terbang bersama debu

namun jadilah kau seperti batu

yang kokoh di antara derasnya arus sungai yang mengalir

yang menjadi tempat berpijak siapapun yang hendak menyeberangi sungai itu

nanti kau akan tahu

bahwa kebanggaan itu adalah

ketika kau mampu sujud di setiap gerakmu

tanpa ada sedikit pun rasa bangga di hatimu

Maka bersiaplah anakku

belajarlah dari daun-daun dan induk ayam yang mengeram

di kebun belakang rumah dan kandang-kandang kayu milik kita

sering-seringlah kau menengoknya

akan kaudapatkan darinya semangat pengorbanan

untuk menumbuhkan sesuatu yang baru

bercengkeramalah dengan kupu-kupu anakku

setiap pagi atau sore ketika mereka berlalu lalang

di atas taman bunga kita

agar dapat kauresapi perjuangannya yang berat dalam menempa jiwa

Ulurkan tanganmu anakku

dan biarkan ayah menggenggam jarimu

agar dapat kauyakinkan diriku

akan kelembutan dan ketegaran hatimu

Liburanku

January 5th, 2007 by wisnuak

Liburanku adalah khitanan atau disunat. Temanku juga ikut disunat di rumahku. Saat itu kakek, nenek, om, tante, dan saudara-saudaraku datang. O, ya. Nama temanku Lukman. Aku dan Lukman juga saudara-saudaraku difoto dulu oleh eyangku. Lalu aku pipis. Setelah pipis pas-pasan dokternya datang. Aku langsung deg-degan loh. Saat itu aku terasa ingin pipis lagi. Lalu Lukman berkata, ”Kamu dulu yang disunat, ya ?” Aku menjawab. “Ya.” Aku sebetulnya deg-degan tapi terpaksa. Lalu aku disunat. Pas disuntik terasa sakit, tapi waktu digunting nggak sakit. Lalu doternya memperlihatkan hasil sunatnya kepadaku. Aku geli melihatnya. Giliranku selesai. Sekarang giliran Lukman. Saat itu Lukman teriak-teriak. Lalu semuanya datang ke rumahku. Ada saudaraku di Depok, ada temanku dan Om Tanteku dari Jakarta. Lalu saudaraku nonton kaset CD. Oya, tante dan omku nginep loh. Lalu aku tertidur. Besoknya saudaraku juga menonton CD kasetku yang lain. Besoknya lagi saudaraku pulang ke Semarang dengan eyang, tinggal om dan tanteku yang dari Jakarta. Setelah ashar tante dan omku pulang ke Jakarta. Aku jadi merasa sepi, tapi mendapatkan kado dan uang yang banyak. Alhamdulillah.

Si Bek

December 24th, 2006 by wisnuak

Ini tulisan Bara usia hampir 6 th (diedit sedikit oleh ayah …)

Ada

bebek namanya Bek. Di kolam Bek belajar berenang. Dia diajari ibunya. Dia jadi senang belajar berenang. Bek mengikuti ibunya. Kakaknya melihat Bek lapar. Jadi Bek makan dulu. Tikus memberinya tomat, timun, ikan, dan ayam. Bek suka sekali itu. Bek memberikan makanan itu ke Kucing karena kucing suka juga tomat, timun, dan ayam. Kucing namanya Kutimu. Kalau tikus namanya Titimuna. Titimuna memotong tomat, timun, ikan, dan ayam. Titimuna memotong dengan giginya. Titimuna suka keju. Bek dan Kutimu juga suka. Bek, Kutimu, dan Titimuna memotong keju. Semua binatang dibagi. Kekeso si kera, Gaji si Gajah, Jejerape si Jerapah, Kekam si Kelinci, Ham si Hamster, Uli si ulat, Caci si Cacing, dan lain-lainnya semua kebagian.

Sekarang sudah malam. Bek harus tidur. Esoknya Bek bangun pagi. Bek cepat-cepat mandi. Ibunya masih mengajari dia berenang. Hari ini ada lomba.  Bek ikut lomba. Kakak dan ibu melihat. Bek menang lomba. Bek mendapatkan piala yang besar sekali.

Umur Bek sekarang sudah enam tahun. Besok Bek ulang tahun yang ke tujuh. Teman-temannya datang ke ulang tahun Bek. Bek diberi hadiah mobil-mobilan oleh ibu, ayah dan kakaknya. Bek senang sekali. Bek berteriak Horee…hore…hore… sebanyak tiga kali. Bek mengucapkan terima kasih kepada ibu, ayah dan kakaknya.Teman-temannya memberi hadiah motor mainan, rumah mainan, dan mainan balok. Ini ulang tahun yang ke tujuh, ya Bek ? Kata Gaji si Gajah.

Pelajaran dari Business Day

December 24th, 2006 by wisnuak

Beberapa waktu yang lalu, di sekolah anak saya diselenggarakan Business Day. Kegiatan ini sepertinya sangat mengasyikkan. Anak-anak diminta menjual hasil karyanya selama satu semester lalu dan sebuah karya yang khusus untuk business day. Untuk karya yang khusus ini orang tua harus terlibat. Bisa dibayangkan betapa sibuknya istri saya menyiapkan karya yang akan dijual tersebut. Sedang anak saya cuek saja, seperti biasa main game, nonton TV, perang-perangan, dll. Sampai sehari menjelang hari H nya anak saya masih cuek.  Akhirnya istri saya memutuskan membuat bunga dari kertas warna-warni. Malam hari, ketika istri saya begadang membuat bunga kertas itu, anak saya tidur dengan nyenyaknya tanpa beban.

Esoknya, begitu melihat bunga itu, anak saya berteriak kegirangan. Ia sangat menyukai bunga buatan ibunya. Dia mulai pasang harga. “Bagaimana kalau saya jual Rp. 2500,-, Bunda. Katanya. “Tidak !” Jawab istri saya. “Rp. 5000,- !”.  Anak saya menjawab cepat. “Nggak mau. Maunya Rp. 2500,-“. Akhirnya istri saya menyerah. Ia harus mengikhlaskan bunga-bunga buatannya, yang dirangkainya sampai tengah malam dihargai hanya Rp. 2500,-. Wah ! Hanya balik modal saja.

Sampai di sekolah, dagangan bunga anak saya cukup laku. Tinggal empat buah. Tapi aneh. Ketika istri saya menjemput ke sekolah. Dia tidak mendapati anak saya membawa uang hasil jualannya sepeser pun. Ditanya ibunya, anak saya menjawab dengan riangnya sambil menunjukkan tiga benda di tangannya, yaitu hiasan dinding dari karton yang tidak begitu bagus dan dua buah jam dari kertas. Ternyata seluruh uang hasil jualannya dibelikan ketiga benda itu.Istri saya mulai cemberut dan menanyakan alasan membeli ketiga benda itu.

Anak saya menjawab dengan tangkas dan tanpa diliputi rasa bersalah. Ia membeli hiasan dinding dari karton-yang menurut istri saya tidak begitu bagus itu- semata karena melihat bagaimana bersusah payahnya si Gumil temannya membuat hiasan tersebut di sekolah. Ia membeli dua buah jam, karena jam yang pertama buatan si Lukman ada keterangan menitnya. Anak saya yang sedang getol belajar jam merasa perlu membeli jam tersebut. Sedang jam yang satunya, sebenarnya jelek, tapi ia beli juga karena merasa kasihan dagangan temannya yang jualannya tidak laku-laku. Istri saya masih cemberut. Dan tambah cemberut lagi ketika mendengar bahwa sebenarnya anak saya mendapat door prize sepasang pena dari Bank Mandiri karena hasil karyanya dianggap bagus, tapi lagi-lagi pena itu ia berikan ke temannya. Ketika ditanya ia menjawab bahwa ia sudah punya di rumah sedangkan temannya tersebut belum punya.

Ketika saya pulang ke rumah waktu itu, istri saya masih cemberut dan menceritakan kejadian tersebut di atas dengan semangat. Saya malah tersenyum. Istri saya mencemberuti  keberhasilannya sendiri menanamkan nilai-nilai. Bahwa kita harus menghargai hasil usaha orang lain seburuk apa pun, bahwa segala sesuatu harus dilihat manfaatnya, bahwa kita sedapat mungkin harus memperhatikan kepentingan orang lain dan berbagi.

Beberapa waktu yang lalu gantian saya yang cemberut, kepala pening dan pusing sebelah. Saya menceritakan apa yang saya alami. Kali ini istri saya yang tersenyum dan mengingatkan saya kembali untuk ikhlas. Saya tersadar.  Sambil memandangi senyumnya, saya bergumam dalam hati. “Ah, istriku, bagaimana mungkin aku bisa membencimu ?!”