Penjual Mie Ayam dan One-to-many Relationship

            Jika saya
sedang ingin masakan Semarang,
saya gelondorkan motor Vespa saya ke jalan Pajajaran menurun ke arah Warung
Jambu. Kemudian kira-kira di depan kantor Bank Muammalat yang baru saya
berputar berbalik arah menuju kantor Bank Muammalat yang lama di dekat gedung
PLN. Di pojok depan kantor itu ada gerobak kecil bertuliskan ”Soto Semarang”.
Seorang ibu yang sudah agak tua biasanya tersenyum begitu melihat saya
memarkirkan motor Vespa dan menyapa, ”Campur, Mas”. Mendengar pertanyaan itu
biasanya saya langsung mengangguk, kemudian mencari bangku yang mengahadap ke
jalan raya, dan dengan cepat tangan saya
mengambil sate telur puyuh yang telah tersedia di atas meja.

Sementara soto
belum disajikan, sambil menyantap sate telur puyuh itu, mata saya tertuju pada
penjual mie ayam yang terletak di pinggir jalan kompleks pertokoan itu. Penjual
mie ayam itu masih muda, laki-laki, rapi dandannya. Bersepatu dan berkaos kaki
pula. Sebenarnya pelanggannya tidak terlalu ramai (tapi memang lebih ramai dari
Soto Semarang langganan saya…..). Ini mengindikasikan mungkin masakannya biasa-biasa saja. Namun kalau saya
amati dia punya pelanggan tetap. Dan yang membuat saya kagum adalah dia begitu
menghayati dan  tampak bergembira ketika
melayani pelanggannya.

Dia bukan seperti penjual mie ayam lain yang
sering saya jumpai di jalan atau tempat-tempat keramaian. Saya tidak
bisa melupakan bagaimana gayanya ketika memasukkan mie dan sayur-sayuran ke
dalam air mendidih kemudian mengangkatnya kembali dan menuangkannya ke mangkok.
Semuanya terlihat seperti berirama. Bahkan ketika menuangkan mie ke mangkok,
dia sedikit menyentakkan mie tersebut sehingga agak sedikit meloncat namun mendarat
tepat di dalam mangkok yang sudah disiapkan. Begitu pun ketika menuangkan kecap
dan saos tomat, ada sentakan-sentakan khas, seperti sebuah ketukan yang
mengiringi senyumnya yang tak pernah lepas dari bibirnya. Gerakannya tangkas.
Pelayanannya cepat. Barangkali kalau tidak ada Soto Semarang saya mungkin sudah
menjadi salah satu pelanggannya.

Saya kira semangat dan kegembiraannya dalam
bekerja itulah yang menjadi ciri khasnya dan kunci keberhasilanya
mempertahankan pelanggan. Saya yang belum pernah membeli mie ayam itu saja
sangat merasakan aura tersebut, apalagi pelanggannya yang selalu ia suguhi gaya
memikat, tangkas dan senyuman. Penjual mie ayam tersebut memahami betul
bagaimana ia harus bersikap untuk menanamkan identitas dirinya di hati para
pelanggannya.

            Penjual mie ayam ini sebut saja Mas Fulan,
meskipun mungkin tidak pernah mengecap bangku kuliah, justru lebih memahami konsep dalam basisdata mengenai one-to-many relationship. Andaikan Mas Fulan ini adalah  salah satu entity instance dari entitas Penjual Mie Ayam, sedangkan Pelanggan
adalah entitas yang lain, dengan asumsi bahwa masing-masing pelanggan hanya
setia pada seorang penjual mie ayam, maka Mas Fulan ini telah dengan tepat
menerapkan bagaimana seharusnya one-to-many
relationship
ini ditransformasikan ke dalam model relasional. Dalam model relasional, entitas-entitas ditransformasikan menjadi tabel-tabel. Sedangkan untuk
mewujudkan one-to-many relationship antara tabel Penjual Mie
Ayam dan Pelanggan, maka identitas (primary
key
)  tabel Penjual Mie Ayam diletakkan pada tabel Pelanggan. Itulah yang dilakukan Mas Fulan
 ! Untuk mewujudkan relationship antara dia dengan pelanggannya, dia berusaha
menanamkan dengan kuat identitas dirinya, berupa gaya yang unik, senyuman yang khas, dan kecapatan
pelayanan di hati para pelanggannya !

           Saya menjadi malu. Saya
yang lebih dari dua semester mengajar kuliah basis data, masih belum mampu
memahami makna tersembunyi dari konsep one-to-many
relationship
seperti yang difahami Mas Fulan ini. Sebagai dosen wali (pembimbing akademik), saya masih
belum mampu membuat mahasiswa saya secara terbuka dan berani mengkonsultasikan
permasalahan-permasalahan mereka kepada saya. Selama ini hubungan saya dengan
mahasiswa bimbingan akademik saya terkesan hanya formalitas saja. Selama
ini pertemuan kami terjadi hanya pada saat mereka membutuhkan tanda tangan saya
untuk pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) atau perubahan KRS. Tidak pernah
untuk yang lain. Boro-boro dengan bangganya mereka menceritakan
keberhasilan-keberhasilan kecil mereka, atau dengan penuh harap dan cemas
menceritakan kegelisahan-kegelisahan mereka kepada saya. Kalau ketemu pun paling hanya senyum kecil. Bahkan setelah
saya fikir-fikir, ternyata saya hanya ingat beberapa saja dari mahasiswa bimbingan akademik saya
tersebut ! Ups…!

          Sekali lagi, saya merasa malu. Saya terlalu
cuek dan tidak pernah sedikitpun berusaha secara serius menancapkan identitas
saya ke dalam hati mereka. Saya yang sebenarnya termasuk orang yang suka memotivasi
dan memperhatikan orang lain, tidak pernah berusaha dengan serius memotivasi dan memperhatikan ekspresi dan kegundahan wajah mereka. Padahal jelas antara saya sebagai Dosen
Pembimbing Akademik dan mereka sebagai Mahasiswa adalah one-to-many relationship. Jadi mana mungkin mereka yang harus
memulai menunjukkan identitasnya kepada saya ?

            Masih
diselimuti rasa bersalah ini, tiba-tiba muncul ide di kepala saya. Apa
sekali-sekali saya traktir mereka makan mie ayam di pinggir jalan Pajajaran itu
ya ?

              Tiba-tiba ada yang nyletuk. Ah… Bapak becanda, ya ? Masak pegawai negeri nraktir…. ? :(

             


8 Responses to “Penjual Mie Ayam dan One-to-many Relationship”

  1. 'KuKe' Ayu W Says:

    *kali ini ga pake serius ahh..*

    Hemh, kayaknya Bapak mesti privat ama ayu nih ^-^v

  2. JZ Says:

    Nanti aku kalau pulang ke Indonesia mau ah ditraktir sama Om Wisnu. Biar pegawai negeri juga,…. :-D

  3. wisnu ananta Says:

    Wah… bude Dian ini jangan-jangan sudah lupa rasa mie ayam setelah lama di Norwegia…. Kalau untuk tiga orang masih kuat nraktir meski pegawai negeri….:-)

  4. itCieH Says:

    klo pa’ wisnu jd dosen PA saya..saya pasti langsung nemuin bapa’ untuk merealisasikan ide itu..^_^v

    saya jadi inget..
    kmaren..saya satu angkot dengan dosen PA saya..
    tapi..kita nggak saling nyapa..:(
    konsultasi dengan beliau empat mata aja nggak pernah..selalu bersama2 teman2 satu PA..
    mana beliau inget saya..??
    mana saya nggak aktif di himpro..
    saya kan aktif ke lab komputer buat ngenet..^_^v
    rasanya..PA saya hanya berguna untuk tanda tangan krs saya saja..:(
    waktu beliau ulang tahun..saya lupa..
    padahal saya inget tanggal lahirnya..(soalnya bulannya sama dengan saya..)

    jadi cuma mahasiswa bimbingannya toh yg ditraktir..?

    oy,pa’..menurut saya..enakan soto tegal daripada soto semarang..terlalu bening..hehe..
    (omongane wong tegal)

  5. wisnu ananta Says:

    emang tegal ada sotonya ? Setahu saya ada juga warung tegal dan nggak ada sotonya…

  6. itCieH Says:

    ada lah pa..yang pake tauco itu..
    mw..??^^

  7. Haris Says:

    hihihi pak Dosen sebenarnya kalo implementasi langsung bingung euy apalagi kalo dah keluar relasi nya jadi menggabung membentuk segitiga (pernah lihat nggak ?), tp bagus juga dilakukan karena mempermudah membaca dokumentasi

  8. wisnu ananta Says:

    Ris, sampeyan biyen Siji opo?, Loro fisik opo?, lan telu fisik opo ? ning SMA 3 smg ?

Leave a Reply