Archive for July, 2007

Pak Kadri Jagoan Watermarking

Sunday, July 22nd, 2007


 

Beberapa hari
yang lalu saya diminta seorang mahasiswa S1 untuk menjadi moderator seminar
skripsi. Topik penelitiannya tentang watermaking. Seminar tersebut menyedot perhatian cukup
banyak mahasiswa. Saya kira mahasiswa ini cukup berhasil menyajikan hasil
penelitian tersebut. Apalagi gayanya yang khas membuat suasana seminar jadi semarak
karena banyak yang terpingkal-pingkal. Termasuk saya. Pengetahuan dan wawasan
mahasiswa ini juga bagus. Disertai contoh-contoh, dia menjelaskan definisi watermaking dengan baik.

Menurut dia watermaking adalah suatu teknik yang
mengijinkan seseorang individu untuk menambahkan catatan hak cipta yang
tersembunyi atau pesan verifikasi lain ke dalam dokumen-dokumen, sinyal-sinyal
audio, atau citra. Kita dapat membuat watermark
ini visible atau invisible. Pada visible
watermark,
pesan verifikasi atau hak cipta tersebut dapat terlihat oleh
indera manusia. Sebaliknya pada invisible
watermark
, untuk melihatnya tidak cukup hanya mengandalkan indera, melainkan harus melewati proses
ekstrasi dengan metode komputasional tertentu. Biasanya pada saat ekstrasi invisible watermark diperlukan sebuah password yang disebut watermark key. Hanya orang yang memiliki
watermark key ini yang dapat
mengekstrasi dan melihat pesan verifikasi atau hak cipta tersebut.

            Asyik sekali
saya mengikuti seminar tersebut. Perasaan jenuh agak sedikit terobati. Bahkan
malamnya, saya masih terhanyut memikirkan watermarking.
Saya jadi ingat kembali masa-masa indah ketika kos di Tubagus Ismail Bawah Bandung, saat saya masih
kuliah S1. Ada
sebuah masjid di ujung jalan Sekeloa dan Tubagus Ismail Bawah itu. Orang-orang menamainya Masjid Al Ukhuwwah. Tidak terlalu besar, memang. Namun kegiatannya
cukup semarak. Dan siapapun yang pernah tinggal di sekitar masjid itu, bahkan
mungkin sampai sekarang, pasti mengenal suara yang membangunkan kita pagi-pagi
untuk melakukan sholat shubuh berjamaah. Suara itu, suara pak Kadri. Suara
azannya biasa saja. Nadanya juga sangat biasa. Tapi karena keistiqomahannya menyuarakan
azan di saat sebagian besar dari kita masih terlelap, maka suara itu menjadi
sulit dilupakan, bahkan meski saya sudah pindah ke Bogor sekalipun.

            Pak Kadri, waktu mudanya hanya seorang kernet angkutan kota. Saat saya kos di Tubagus Ismail Bawah itu beliau sudah memiliki 3 mobil angkutan, 3 rumah yang dikontrakan, 1
rumah yang ditinggali, tiga putri yang berjilbab rapi dan sudah berhaji pula ! (Ya… Allah mudahkanlah saya untuk
dapat menunaikan ibadah haji). Namun kesederhanaannya tidak berubah. Beliau
masih menyopiri sendiri salah satu angkotnya. Pun keistiqomahannya untuk menyuarakan azan
shubuh. Dan jika di masjid,  ada pengumuman  yang memberitahukan adanya sumbangan dari seorang ‘hamba Allah’ yang
cukup besar, kemungkinan dari pak Kadri. Beliau pula salah satu donatur tetap
beasiswa untuk anak-anak tidak mampu yang dulu pernah saya kelola, yang tidak pernah mau disebutkan namanya.

Saya menjadi
terkesiap. Bukankah ini contoh kongkrit watermarking
yang ditunjukkan pak Kadri? Jika watermarking yang diseminarkan mahasiswa
S1 itu diterapkan pada citra/gambar, bukankah pak Kadri telah berhasil
menerapkannya pada amal? Beliau telah melakukan visible watermarking terhadap amalannya  berupa kesederhanaan
dan keteguhannya menyuarakan azan shubuh. Orang-orang di sekitar masjid itu
tahu, tiap ada azan shubuh, itu adalah suara pak Kadri. Insya Allah malaikat akan mencatatnya sebagai amalan yang baik. Dan yang
membuat saya salut, bukankah beliau  telah melakukan invisible watermarking? Beliau berinfak, tanpa mau disebutkan namanya. Pesan infaknya bergema di Masjid tapi
tak banyak yang  tahu bahwa itu infak darinya. Namun  malaikat
pencatat amal baik pasti tahu, bahwa itu adalah amalan Pak Kadri, seorang hamba Allah yang
berusaha untuk tetap teguh dalam kesederhanaan, keistiqomahan, dan keikhlasan.
Semoga Allah menetapkannya dalam golongan orang-orang yang sholeh sampai akhir hayatnya. Amiin.


(Ya Allah jadikan pula hamba termasuk dalam
golongan orang-orang yang sholeh…. Amiin) 

 

Penjual Mie Ayam dan One-to-many Relationship

Wednesday, July 4th, 2007

            Jika saya
sedang ingin masakan Semarang,
saya gelondorkan motor Vespa saya ke jalan Pajajaran menurun ke arah Warung
Jambu. Kemudian kira-kira di depan kantor Bank Muammalat yang baru saya
berputar berbalik arah menuju kantor Bank Muammalat yang lama di dekat gedung
PLN. Di pojok depan kantor itu ada gerobak kecil bertuliskan ”Soto Semarang”.
Seorang ibu yang sudah agak tua biasanya tersenyum begitu melihat saya
memarkirkan motor Vespa dan menyapa, ”Campur, Mas”. Mendengar pertanyaan itu
biasanya saya langsung mengangguk, kemudian mencari bangku yang mengahadap ke
jalan raya, dan dengan cepat tangan saya
mengambil sate telur puyuh yang telah tersedia di atas meja.

Sementara soto
belum disajikan, sambil menyantap sate telur puyuh itu, mata saya tertuju pada
penjual mie ayam yang terletak di pinggir jalan kompleks pertokoan itu. Penjual
mie ayam itu masih muda, laki-laki, rapi dandannya. Bersepatu dan berkaos kaki
pula. Sebenarnya pelanggannya tidak terlalu ramai (tapi memang lebih ramai dari
Soto Semarang langganan saya…..). Ini mengindikasikan mungkin masakannya biasa-biasa saja. Namun kalau saya
amati dia punya pelanggan tetap. Dan yang membuat saya kagum adalah dia begitu
menghayati dan  tampak bergembira ketika
melayani pelanggannya.

Dia bukan seperti penjual mie ayam lain yang
sering saya jumpai di jalan atau tempat-tempat keramaian. Saya tidak
bisa melupakan bagaimana gayanya ketika memasukkan mie dan sayur-sayuran ke
dalam air mendidih kemudian mengangkatnya kembali dan menuangkannya ke mangkok.
Semuanya terlihat seperti berirama. Bahkan ketika menuangkan mie ke mangkok,
dia sedikit menyentakkan mie tersebut sehingga agak sedikit meloncat namun mendarat
tepat di dalam mangkok yang sudah disiapkan. Begitu pun ketika menuangkan kecap
dan saos tomat, ada sentakan-sentakan khas, seperti sebuah ketukan yang
mengiringi senyumnya yang tak pernah lepas dari bibirnya. Gerakannya tangkas.
Pelayanannya cepat. Barangkali kalau tidak ada Soto Semarang saya mungkin sudah
menjadi salah satu pelanggannya.

Saya kira semangat dan kegembiraannya dalam
bekerja itulah yang menjadi ciri khasnya dan kunci keberhasilanya
mempertahankan pelanggan. Saya yang belum pernah membeli mie ayam itu saja
sangat merasakan aura tersebut, apalagi pelanggannya yang selalu ia suguhi gaya
memikat, tangkas dan senyuman. Penjual mie ayam tersebut memahami betul
bagaimana ia harus bersikap untuk menanamkan identitas dirinya di hati para
pelanggannya.

            Penjual mie ayam ini sebut saja Mas Fulan,
meskipun mungkin tidak pernah mengecap bangku kuliah, justru lebih memahami konsep dalam basisdata mengenai one-to-many relationship. Andaikan Mas Fulan ini adalah  salah satu entity instance dari entitas Penjual Mie Ayam, sedangkan Pelanggan
adalah entitas yang lain, dengan asumsi bahwa masing-masing pelanggan hanya
setia pada seorang penjual mie ayam, maka Mas Fulan ini telah dengan tepat
menerapkan bagaimana seharusnya one-to-many
relationship
ini ditransformasikan ke dalam model relasional. Dalam model relasional, entitas-entitas ditransformasikan menjadi tabel-tabel. Sedangkan untuk
mewujudkan one-to-many relationship antara tabel Penjual Mie
Ayam dan Pelanggan, maka identitas (primary
key
)  tabel Penjual Mie Ayam diletakkan pada tabel Pelanggan. Itulah yang dilakukan Mas Fulan
 ! Untuk mewujudkan relationship antara dia dengan pelanggannya, dia berusaha
menanamkan dengan kuat identitas dirinya, berupa gaya yang unik, senyuman yang khas, dan kecapatan
pelayanan di hati para pelanggannya !

           Saya menjadi malu. Saya
yang lebih dari dua semester mengajar kuliah basis data, masih belum mampu
memahami makna tersembunyi dari konsep one-to-many
relationship
seperti yang difahami Mas Fulan ini. Sebagai dosen wali (pembimbing akademik), saya masih
belum mampu membuat mahasiswa saya secara terbuka dan berani mengkonsultasikan
permasalahan-permasalahan mereka kepada saya. Selama ini hubungan saya dengan
mahasiswa bimbingan akademik saya terkesan hanya formalitas saja. Selama
ini pertemuan kami terjadi hanya pada saat mereka membutuhkan tanda tangan saya
untuk pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) atau perubahan KRS. Tidak pernah
untuk yang lain. Boro-boro dengan bangganya mereka menceritakan
keberhasilan-keberhasilan kecil mereka, atau dengan penuh harap dan cemas
menceritakan kegelisahan-kegelisahan mereka kepada saya. Kalau ketemu pun paling hanya senyum kecil. Bahkan setelah
saya fikir-fikir, ternyata saya hanya ingat beberapa saja dari mahasiswa bimbingan akademik saya
tersebut ! Ups…!

          Sekali lagi, saya merasa malu. Saya terlalu
cuek dan tidak pernah sedikitpun berusaha secara serius menancapkan identitas
saya ke dalam hati mereka. Saya yang sebenarnya termasuk orang yang suka memotivasi
dan memperhatikan orang lain, tidak pernah berusaha dengan serius memotivasi dan memperhatikan ekspresi dan kegundahan wajah mereka. Padahal jelas antara saya sebagai Dosen
Pembimbing Akademik dan mereka sebagai Mahasiswa adalah one-to-many relationship. Jadi mana mungkin mereka yang harus
memulai menunjukkan identitasnya kepada saya ?

            Masih
diselimuti rasa bersalah ini, tiba-tiba muncul ide di kepala saya. Apa
sekali-sekali saya traktir mereka makan mie ayam di pinggir jalan Pajajaran itu
ya ?

              Tiba-tiba ada yang nyletuk. Ah… Bapak becanda, ya ? Masak pegawai negeri nraktir…. ? :(