Bara Samudra Syuhada (1)
Ya, itu adalah nama anakku. Anak kami. Sampai saat ini masih anak satu-satunya. Moga-moga dikaruniai anak satu lagi, dua, tiga, empat, atau lebih. Amiin. Saya menuliskan di sini semata untuk berbagi rasa syukur betapa indahnya punya anak (makanya yang belom nikah tapi sudah mampu cepet-cepet nikah… terus cepet-cepet punya anak, buktikan sendiri…).
Nama itu merupakan gabungan usulan nama dari saya dan dari istri. Dulu perjanjiannya sebelum punya anak, kalau perempuan yang memberi nama saya, kalau laki-laki yang memberi nama istri. Saya sudah siapkan nama untuk anak perempuan, bahkan puisinya pun sudah ada (habis dari dulu ngebet pengin punya anak perempuan, soalnya keluarga besar saya mayoritas laki-laki, keluarga kandung saya laki-laki semua). Nama usulan saya itu Samudra Puspa Kenanga (nama ini saya buat jauh hari sebelum saya mengenal istriku yang bernama Puspa…. dasar sudah jodoh kali..). Sedang istriku yang ingin anak laki-laki mengusulkan nama Bara Syuhada.
Akhirnya, saat yang dinanti-nanti itu tiba. 10 juni 1999, pas saat azan maghrib, anak pertamaku lahir dengan selamat. Saya menyaksikannya sendiri, bagaimana istriku berjuang sekuat tenaga mengeluarkan jabang bayi yang sepertinya enggan keluar dari rahim ibunya. Kepala anakku sempat keluar dan masuk lagi ke dalam perut ibunya, sehingga istriku hampir kehabisan tenaga. Persitiwa ini membuat saya sangat takjub sekaligus semakin menaruh rasa hormat kepada wanita. Makanya suami-suami yang memiliki istri yang sedang hamil, bulatkan tekad untuk mendampingi istri saat melahirkan. Jika dokter melarang, yakinkan meraka bahwa keberadaan kita di sampingnya akan justru mempermudah proses kelahiran.
Singkat kata, setelah istri saya lepas dari kepayahan, dia dengan gembira mengatakan dengan mesra, "berarti namanya Bara Syuhada, ya, Mas ?" Dasar laki-laki, masih saja mau menang sendiri. Dengan berdalih bahwa nama itu kurang enak kedengarannya di telinga, saya mengusulkan ada tambahan kata Samudra di antara kata Bara dan Syuhada. Saya, laki-laki, yang baru saja melihat bagaimana susah payahnya istri melahirkan. Dan baru saja di dalam hati mengikrarkan akan semakin menghormati perempuan, ternyata sudah melanggar komitmen !
Ah, tapi kan untuk kebaikkan. Dan komitmen kan bisa dikompromikan lagi pikirku. Akhirnya saya meyakinkan istri bahwa nama Bara Samudra Syuhada lebih enak didengar dan lebih gagah. Istriku mengangguk, meski tidak sepenuhnya setuju. Kemudian saya mulai membuat tafsiran-tafsiran (tepatnya ngarang….!). Nama Bara Syuhada menurut istriku adalah semangat seorang syuhada. Istriku ingin anak kami kelak mewarisi semangat syuhada. Saya kemudian mencoba meyakinkan istriku, Bara Samudra Syuhada memiliki arti yang lebih dari itu. Samudra mengandung makna luas. Jadi Bara Samudra Syuhada artinya semangat beribu-ribu syuhada. Kali ini istriku mengangguk, tersenyum puas. Ya, gitu… Istri yang baik selalu taat pada suami dan selalu tersenyum meski keinginannya tidak sepenuhnya dipenuhi (hus… dasar laki-laki !)
Saya ingat pesan guru saya, nama adalah doa. Ini yang kami rasakan. Makanya kami berusaha memberi nama anak saya dengan nama yang baik. Tapi menurut saya tidak harus pakai bahasa arab. Alhamdulillah, kami dikaruniai anak yang luar biasa (Semua anak luar biasa, mereka unik, bahkan anak yang lahir cacat sekalipun !). Anak saya benar-benar memiliki semangat yang menyala-nyala. Alhamdulillah dia bisa bertahan ketika di umurnya yang masih 7 hari bilirubinnya mencapai angka 21. Jika terlambat sedikit saja, mungkin akan naik sampai angka 25 dan ini berbahaya bagi otak. Bara harus dirawat di rumah sakit dan disinari ultra violet selama 5 hari.
Bara seperti namanya tergolong anak yang tidak bisa diam, sensitif-bahkan kata psikolog cenderung hipersensitif, sering menagis, seperti tidak betah tidur di dalam box. Namun alhamdulillah dia sangat cerdas. Dia sangat cepat faham dengan apa yang diperbincangkan lingkungan sekitarnya. Saya masih ingat ketika suatu sore, seperti biasa, saya menggendongnya berjalan-jalan berkeliling perumahan. Di tengah jalan saya bertemu dengan tetangga. Kami terlibat dalam obrolan ringan, sampai kemudian beliau bertanya, "umur berapa Bara, Pak Wisnu". "Hampir 11 bulan, Pak", jawabku. "Sudah bisa jalan ?" tanya beliau lagi. "Belum, baru merambat saja", jawabku. "O… anak saya umur 10 bulan sudah jalan, Pak". "Kan tiap anak beda perkembangannya, Pak", jawabku menghibur diri. Saya kemudian pulang dengan perasaan gundah.
Sampai di rumah saya ceritakan kejadian ini kepada istri. Saya ceritakan juga perasaan saya tersebut. Bagaimana pun wajar tiap orang ingin anaknya bisa melebihi kemampuan anak lainnya. Entah kenapa. Bara seperti mengerti kegundahan hati saya. Saat saya masih berbincang dengan istri, tiba-tiba ia berjalan berputar-putar membentuk lingkaran sambil tertawa-tawa. Saya heran takjub, begitu juga istri saya. Kami bersyukur…. dan saking senangnya hampir-hampir saya mau berlari menuju rumah tetangga ingin mengabarkan bahwa anak saya baru saja bisa berjalan. Saya dan istri kemudian menciuminya berulang-ulang. Betapa indahnya saat-saat seperti ini. Ah, Bara… kamu seperti tahu saja apa keinginan ayah… Seperti sampai saat ini, setiap bunda beli makanan untuk oleh-olehmu, kamu selalu ingat bagian untuk ayah. Makanya…. ayahmu sekarang gendut ! :(
June 19th, 2007 at 6:56 pm
wah pak seru banget ceritanya, hikhik… jadi pingin punya anak, whahaha (hus nikah dulu..)
perihal bapak jadi gendut , no comment dech…….
June 19th, 2007 at 11:21 pm
Seperti sampai saat ini, setiap bunda beli makanan untuk oleh-olehmu, kamu selalu ingat bagian untuk ayah. Makanya…. ayahmu sekarang gendut !
==>>jadi nyalahin bara nih ya pak kalo sekarang jadi gendut
hehehehe
June 27th, 2007 at 8:02 pm
Tapi gendut gini, masih tetep kayak Superman kan, Ceng ? He..he…he….
June 27th, 2007 at 8:05 pm
Nggak nyalahin, Lis….malah bersyukur, karena komentar temen saya, saya kelihatan makmur….kayak big boss…
June 28th, 2007 at 12:52 pm
Puspa, mas wisnu ngga usah dikasih makan lagi. Bagian dari Bara saja sudah bikin gemuk ha ha ha….Apa lagi kalau dikasih makan betul-betul
Jaziar
June 29th, 2007 at 2:43 pm
Wah mbak Dian bener…. Soalnya Bara kalau minta oleh-oleh bangsanya Burger, Mie Ayam, Empek-empek Kapal selem…. yang semuanya sangat cocok buat perut saya… he…he…he
July 2nd, 2007 at 4:02 am
Waa…. ceritanya sangat menarik. Entah ini merupakan sindiran bagi yang belum menikah :p atau mungkin saran untuk segera punya anak bagi yang sedang menunda kehamilan anak :p. Ambil positifnya saja…. buruan nikah bagi yang belum tetapi telah memenuhi syarat

Kl yang ini “Makanya…. ayahmu sekarang gendut !” –> ngga juga, mungkin tambah sehat saja Pak
Salam,
Sony,-
July 3rd, 2007 at 6:18 am
“…. buruan nikah bagi yang belum tetapi telah memenuhi syarat :D” ==> kamu ini sedang menyuruh diri sendiri atau bagaimana, Son ?
July 20th, 2007 at 4:47 am
Untuk buruan nikah bagi yang belum saya setuju dengan Pak Wisnu. . . Gimana Son???
Kl yang ini “Makanya…. ayahmu sekarang gendut !” –> ngga juga, mungkin tambah sehat saja Pak
. . .
saya sangat setuju sama Soni
Gimana Pak Wisnu???
July 22nd, 2007 at 7:35 pm
Saya juga setuju kalau pak Endang mau nikah lagi supaya badannya gendut …. eh tambah sehat… Gimana pak Endang …? (Lho…???)
July 22nd, 2007 at 7:38 pm
Nggak….nggak pak Endang. Hanya becanda…Pak Endang kan termasuk yang memiliki istri yang berhasil mengurusi terus suaminya… he…he…he