Anakmu adalah Benar-Benar Anakmu !
Dulu, kira-kira lima belas tahun yang lalu. Ketika jalan-jalan menikmati liburan panjang kuliah di kampungku Gutitan Semarang. Saya dikejutkan oleh suara serak yang memanggil "Wisnu…" Seorang lelaki yang sudah kelihatan tua dengan "pit kebo’ nya (sepeda tuanya) yang masih dibawanya ke mana-mana. Dia ternyata mas Yadi, penjual es batu langganan ibuku. Waktu kecil saya sering disuruh ibu membeli es batu. Wah hebat juga mas Yadi ini masih ingat saya.
Mas Yadi kemudian berhenti. Mengajakku ngobrol. Wajahnya masih tetap seperti dulu hanya sedikit lebih tua. Tenaganya masih kuat. Balok es yang besar itu masih kuat diangkatnya seorang diri. Yang membedakan hanya suaranya yang serak dan hampir tak terdengar. Lirih sekali. Saya tanyakan kenapa suaranya menjadi seperti itu. Katanya ada masalah dengan tenggorokannya. Oleh dokter sudah diberi obat, tapi belum sembuh juga. Akhirnya beliau tidak meneruskan pengobatan lagi. Sayang, katanya. Mendingan uangnya ia gunakan untuk membiayai lima orang anaknya yang mondok di Pesantren. Sambil menyeka peluhnya, ia mengatakan bersyukur masih dapat menyekolahkan anak-anaknya di pesantren dengan hanya bekerja sebagai penjual es Batu. Beliau kemudian pamit. Menggelindingkan kembali ‘pit kebo’ nya. Dan tersenyum dengan senyuman khasnya.
Pertemuan dengan mas Yadi ini kemudian mengingatkan saya pada tulisan Emha Anun Najib di salah satu bukunya yang mencoba memberi tafsiran lain dari puisi Khalil Gibran mengenai anak: "Anakmu bukanlah milikmu. Mereka adalah putra-putri sang hidup yang senantiasa rindu pada diri sendiri……."
Emha dalam bukunya itu menuturkan, puisi Khalil Gibran adalah untuk mengingatkan kita agar berlaku bijak dalam menyikapi pilihan-pilihan yang ditetapkan anak dalam mengembangkan potensi, kreativitas, dan keahliannya. Tidak sepantasnya orang tua memaksakan keinginan dan harapannya kepada anak, membentuk seluruh dunianya, sehingga tanpa disadari justru mereduksi atau bahkan menghancurkan potensi yang dimiliki anak tersebut. Namun untuk masalah akidah dan akhlak, masalah tujuan hidup, maka puisi Khalil Gibran tersebut harus dikritisi. Untuk masalah mendasar tersebut, "anakmu adalah benar-benar anakmu". "Anak kita adalah benar-benar anak kita". Kita harus berupaya keras mengarahkannya. Menjaga akidahnya dan membentuk karakternya !
Pada sisi inilah saya merasakan bagaimana kearifan mas Yadi penjual es Batu membuat pilihan tepat terhadap anak-anaknya di tengah hiruk pikuk kehidupan remaja yang makin jauh dari nilai-nilai. Beliau mungkin tidak pernah membaca puisi Khalil Gibran atau tulisan Emha. Namun dengan segala kesederhanaannya, dengan memasukkan anak-anaknya ke Pesantren, tanpa disadari beliau telah melakukan tindakan yang brilian yang menggugat pemikiran penyair besar Khalil Gibran tentang anak. Bahkan untuk itu, demi akidah dan karakter anak-anaknya, beliau rela menomorduakan kesehatannya. Baginya akidah dan akhlak adalah segalanya.
Saya menjadi teringat kembali saat-saat di mana saya menikmati film Bulan Tertusuk Ilalang di sebuah tempat kuliah yang malamnya disulap menjadi tempat pemutaran film di salah satu PTN terkemuka di Bandung. Saya ingat ada sosok seperti mas Yadi yang dimunculkan oleh Garin dalam karakter sosok tua buta penabuh gamelan. Sosok yang sederhana namun kematangan jiwanya dan keteguhannya memegang prinsip mampu membuat sebuah padepokan seni yang lesu menjadi bergairah kembali.
Ketika sang guru padepokan wafat. Tidak satu pun baik Bulan maupun Ilalang yang mampu bangkit dari keterpukulan untuk menggantikan sang guru memimpin dan menghidupkan kembali padepokan seni. Ilalang, meski memiliki bakat seni yang besar tak mampu menghilangkan bayang-bayang sejarahnya yang membuatnya kerdil. Sementara Bulan, seorang wanita yang mengagung-agungkan kebebasan, justru terjebak pada bayang-bayang sang guru yang tanpa sadar mereduksi habis sifat kemandiriannya.
Hanya seorang tua buta yang masih bisa berfikir jernih, seorang pemukul gamelan yang selama ini sama sekali tidak pernah diperhitungkan. Dengan kesederhanaan, kebersahajaan dan keteguhannya memegang prinsip, orang tua buta ini yang kemudian mampu membangkitkan kembali padepokan seni yang hampir mati menjadi hidup dan lebih semarak.
Ya, orang tua buta yang tiap hari dan tiap malam di kala sepi memukul-mukul gamelan untuk dicocokkan suaranya dengan suara gamelan standar !
Terima kasih mas Yadi………