Archive for June, 2007

Belajar dari Diagram Konteks

Friday, June 29th, 2007

Selama bulan
Juni sampai Agustus ini, saya dituntut untuk memiliki tenaga dan kesabaran
ekstra. Bulan bulan tersebut biasanya akan banyak kegiatan bimbingan dan ujian
sidang mahasiswa diploma. Hampir tiap hari disodori sebuah gambar yang mungkin
untuk sebagian dosen terutama saya, kalau mau jujur sudah sangat bosan.
Bayangkan saja waktu kuliah S2 dulu ngubek-ngubek gambar ini. Kerja di IPTN
melototi gambar ini. Mengajar di Bandung juga berkoar-koar tentang gambar ini.
Kalau sedang ‘mroyek’ juga merangkai-rangkai gambar ini.  Sekarang di IPB sering ditanya, terutama oleh
mahasiswa, tentang gambar ini.

            Sebenarnya gambar ini sederhana saja. Hanya
terdiri dari sebuah bulatan,  beberapa
persegi empat, dan beberapa anak panah yang berasal dari persegi empat tersebut
menuju ke bulatan atau sebaliknya.
Banyak literatur menyebutnya context diagram (diagram konteks). Ada yang menyebutnya
sebagai Data Flow Diagram Level 0
(disingkat DFD level 0). Terserah, asal konsisten saja. Tapi jangan tanya…
diagram konteks ini bisa bikin mahasiswa ngedumel, jengkel, campur
mangkel…Habis tiap bimbingan sama saya gambar ini yang dicoret melulu. “Salah lagi, salah lagi…. Yang bener
gimana sih, Pak ?”

Orang-orang yang pernah belajar Rekayasa Perangkat
Lunak atau Sistem Informasi pasti akrab dengan istilah Diagram Konteks ini. Diagram
ini digunakan untuk menggambarkan ruang lingkup sistem atau bagaimana sistem
tersebut berinteraksi dengan lingkungannya. Sistem digambarkan dengan bulatan.
Sedangkan lingkungan diwakili oleh entitas luar  yang digambarkan dengan persegi. Interaksi
antara sistem dan entitas luar direpresentasikan oleh aliran data yang
digambarkan dengan anak panah mengalir dari entitas luar ke sistem (sebagai
input) atau sebaliknya dari sistem ke entitas luar (sebagai output). 

Yang menarik menurut saya adalah, pada banyak
literatur, kita tidak boleh menggambarkan aliran data dari entitas luar yang
satu ke entitas luar yang lain. Ini yang sering membuat saya agak kesal setiap
kali melihat kesalahan ini diulang-ulang oleh mahasiswa. Mereka menggambarkan
seluruh interaksi sehingga batasan sistem menjadi kabur. Interaksi antar
entitas luar ini tidak perlu digambarkan karena interaksi tersebut berada di luar konteks
sistem.  Jadi diagram konteks mengajarkan untuk fokus pada
entitas luar yang benar-benar berinteraksi dengan sistem.  Soal apakah
antar entitas luar   saling bertukar informasi, tidak perlu dipedulikan !

Sedang asyik memikirkan diagram konteks tiba-tiba
fikiran saya melocat ke kisah infotainment yang beberapa bulan yang lalu
pernah digugat dan diharamkan oleh fatwa NU. Acara ini dinilai menyuburkan
budaya gosip dan menyebarkan aib orang lain, suatu kebiasaan buruk yang
kontraproduktif. Tapi seperti biasa kalangan pendukung atau konseptor acara
ini  tampil dengan berbagai  dalih dan argumentasi  untuk
meyakinkan bahwa acara ini tetap layak untuk ditampilkan. Entah apa alasannya,
yang jelas banyak ibu-ibu dan remaja-remaja  sampai saat ini masih setia
menikmati acara ini.
        Saya tidak ingin berpanjang-panjang
dengan infotainment, yang ingin saya ceritakan adalah sadar atau tidak
sadar- meskipun tidak pernah sengaja menonton infotainment, saya
ternyata sering memiliki perilaku yang serupa. Di tempat kerja saya  masih
sering begitu ingin membicarakan kelemahan dan kesalahan orang lain. Bahkan
yang terparah adalah saya kadang-kadang masih merasa  begitu gundah dan ingin selalu menyelidiki
urusan orang lain meskipun urusan tersebut tidak berhubungan dengan saya.
Alih-alih memikirkan bagaimana langkah  untuk memperbaiki diri dan
memperbaiki hubungan dengan orang lain, saya justru sibuk memikirkan sepak
terjang orang lain,  ya persis seperti infotainment itu. Dengan begitu energi
dan konsentrasi saya terkuras untuk suatu yang tidak bermanfaat.
Lalu apa yang  saya sisakan untuk membangun potensi saya ?

Wah ! Tampaknya
saya harus merubah sikap saya terhadap para mahasiswa. Lha gimana mau memarahi
mereka yang belum faham mengabstraksikan batasan sistem ke dalam diagram
konteks, sedang saya sendiri masih belum faham esensi diagram konteks. Pantesan
kalau kuliah Rekayasa Perangkat Lunak mahasiswa-mahasiswa saya pada
ngantuk….Terus saya marah-marah sendiri. Terus saya keluar ruangan, minta
perhatian, supaya ada salah satu mahasiswa yang tidur di kelas menghadap saya merengek-rengek
minta dimaafkan.

"Oalah pak Wisnu……. nggak usah deh ngomong
tentang diagram konteks yang katanya interaksi antar entitas luar nggak perlu
digambarkan, kalau Bapak sendiri masih suka mencari-cari tahu apa  yang dikerjakan orang lain. Dan kebangeten
tenan deh, Pak, jika Bapak masih suka mencari-cari kelemahan dan kesalahan orang lain." Tiba-tiba mahasiswa-mahasiswa yang tadi pada jengkel sama saya habis bimbingan, ngrubutin
dan ’ngobrak-ngabrik’ rambut saya yang sudah kucel.

Deg…..Dada saya seperti
mandeg…..Untung hanya khayalan saya sendiri…

Selamat berjuang memperbaiki diri……….:-)

  

Bara Samudra Syuhada (1)

Tuesday, June 19th, 2007

    Ya, itu adalah nama anakku. Anak kami. Sampai saat ini masih anak satu-satunya. Moga-moga dikaruniai anak satu lagi, dua, tiga, empat, atau lebih. Amiin. Saya menuliskan di sini semata untuk berbagi rasa syukur betapa indahnya punya anak (makanya yang belom nikah tapi sudah mampu cepet-cepet nikah… terus cepet-cepet punya anak, buktikan sendiri…).
    Nama itu merupakan gabungan usulan nama dari saya dan dari istri. Dulu perjanjiannya sebelum punya anak, kalau perempuan yang memberi nama saya, kalau laki-laki yang memberi nama istri. Saya sudah siapkan nama untuk anak perempuan, bahkan puisinya pun sudah ada (habis dari dulu ngebet pengin punya anak perempuan, soalnya keluarga besar saya mayoritas laki-laki, keluarga kandung saya laki-laki semua).  Nama  usulan saya itu Samudra Puspa Kenanga (nama ini saya buat jauh hari sebelum saya mengenal istriku yang bernama Puspa…. dasar sudah jodoh kali..). Sedang istriku yang ingin anak laki-laki mengusulkan nama Bara Syuhada.
    Akhirnya, saat yang dinanti-nanti itu tiba. 10 juni 1999, pas saat azan maghrib, anak pertamaku lahir dengan selamat. Saya menyaksikannya sendiri, bagaimana istriku berjuang sekuat tenaga mengeluarkan jabang bayi yang sepertinya enggan keluar dari rahim ibunya. Kepala anakku sempat keluar dan masuk lagi ke dalam perut ibunya, sehingga istriku hampir kehabisan tenaga. Persitiwa ini membuat saya sangat takjub sekaligus semakin menaruh rasa hormat kepada wanita. Makanya suami-suami yang memiliki istri yang sedang hamil, bulatkan tekad untuk mendampingi istri saat melahirkan. Jika dokter melarang, yakinkan meraka bahwa keberadaan kita di sampingnya akan justru mempermudah proses kelahiran.
    Singkat kata, setelah istri saya lepas dari kepayahan, dia dengan gembira mengatakan dengan mesra, "berarti namanya Bara Syuhada, ya, Mas ?" Dasar laki-laki, masih saja mau menang sendiri. Dengan berdalih bahwa nama itu kurang enak kedengarannya di telinga, saya mengusulkan ada tambahan kata Samudra di antara kata Bara dan Syuhada. Saya, laki-laki,  yang baru saja melihat bagaimana susah payahnya istri melahirkan. Dan baru saja di dalam hati mengikrarkan akan semakin menghormati perempuan, ternyata sudah melanggar komitmen !
    Ah, tapi kan untuk kebaikkan. Dan komitmen kan bisa dikompromikan lagi pikirku. Akhirnya saya meyakinkan istri bahwa nama Bara Samudra Syuhada lebih enak didengar dan lebih gagah. Istriku mengangguk, meski tidak sepenuhnya setuju. Kemudian saya mulai membuat tafsiran-tafsiran (tepatnya ngarang….!). Nama Bara Syuhada menurut istriku adalah semangat seorang syuhada. Istriku ingin anak kami kelak mewarisi semangat  syuhada. Saya kemudian mencoba meyakinkan istriku, Bara Samudra Syuhada memiliki arti yang lebih dari itu. Samudra mengandung makna luas. Jadi Bara Samudra Syuhada artinya semangat beribu-ribu syuhada. Kali ini istriku mengangguk, tersenyum puas.  Ya, gitu… Istri yang baik selalu taat pada suami dan selalu tersenyum meski keinginannya tidak sepenuhnya dipenuhi (hus… dasar laki-laki !)
    Saya ingat pesan guru saya, nama adalah doa. Ini yang kami rasakan. Makanya kami berusaha memberi nama anak saya dengan nama yang baik. Tapi menurut saya tidak harus pakai bahasa arab. Alhamdulillah, kami dikaruniai anak yang luar biasa (Semua anak luar biasa, mereka unik, bahkan anak yang lahir cacat sekalipun !). Anak saya benar-benar memiliki semangat yang menyala-nyala. Alhamdulillah dia bisa bertahan ketika di umurnya yang masih 7 hari bilirubinnya mencapai angka 21. Jika terlambat sedikit saja, mungkin akan naik sampai angka 25 dan ini berbahaya bagi otak. Bara harus dirawat di rumah sakit dan disinari ultra violet selama 5 hari.
    Bara seperti namanya tergolong anak yang tidak bisa diam, sensitif-bahkan kata psikolog cenderung hipersensitif, sering menagis, seperti tidak betah tidur di dalam box. Namun alhamdulillah dia sangat cerdas. Dia sangat cepat faham dengan apa yang diperbincangkan lingkungan sekitarnya. Saya masih ingat ketika suatu sore, seperti biasa, saya menggendongnya berjalan-jalan berkeliling perumahan. Di tengah jalan saya bertemu dengan tetangga. Kami terlibat dalam obrolan ringan, sampai kemudian beliau bertanya, "umur berapa Bara, Pak Wisnu". "Hampir 11 bulan, Pak", jawabku. "Sudah bisa jalan ?" tanya beliau lagi. "Belum, baru merambat saja", jawabku.  "O… anak saya umur 10 bulan sudah jalan, Pak". "Kan tiap anak beda perkembangannya, Pak", jawabku menghibur diri. Saya kemudian pulang dengan perasaan gundah.
    Sampai di rumah saya ceritakan kejadian ini kepada istri. Saya ceritakan juga perasaan saya tersebut. Bagaimana pun wajar tiap orang ingin anaknya bisa melebihi kemampuan anak lainnya. Entah kenapa. Bara seperti mengerti kegundahan hati saya. Saat saya masih berbincang dengan istri, tiba-tiba ia berjalan berputar-putar membentuk lingkaran sambil tertawa-tawa. Saya heran takjub, begitu juga istri saya. Kami bersyukur…. dan saking senangnya hampir-hampir saya mau berlari menuju rumah tetangga ingin mengabarkan bahwa anak saya baru saja bisa berjalan. Saya dan istri kemudian menciuminya berulang-ulang. Betapa indahnya saat-saat seperti ini. Ah, Bara… kamu seperti tahu saja apa keinginan ayah… Seperti sampai saat ini, setiap bunda beli makanan untuk oleh-olehmu, kamu selalu ingat  bagian untuk ayah. Makanya…. ayahmu sekarang gendut ! :( 

Anakmu adalah Benar-Benar Anakmu !

Thursday, June 14th, 2007

Dulu, kira-kira lima belas tahun yang lalu. Ketika jalan-jalan menikmati  liburan panjang kuliah di kampungku Gutitan Semarang. Saya dikejutkan oleh suara serak yang memanggil "Wisnu…" Seorang lelaki yang sudah kelihatan tua dengan "pit kebo’ nya (sepeda tuanya) yang masih dibawanya ke mana-mana. Dia ternyata mas Yadi, penjual es batu langganan ibuku. Waktu kecil saya sering disuruh ibu membeli es batu. Wah hebat juga mas Yadi ini masih ingat saya.

Mas Yadi kemudian berhenti. Mengajakku ngobrol. Wajahnya masih tetap seperti dulu hanya sedikit lebih tua. Tenaganya masih kuat. Balok es yang besar itu masih kuat diangkatnya seorang diri. Yang membedakan hanya suaranya yang serak dan hampir tak terdengar. Lirih sekali. Saya tanyakan kenapa suaranya menjadi seperti itu. Katanya ada masalah dengan tenggorokannya. Oleh dokter sudah diberi obat, tapi belum sembuh juga. Akhirnya beliau tidak meneruskan pengobatan lagi. Sayang, katanya. Mendingan uangnya ia gunakan untuk membiayai lima orang anaknya yang mondok di Pesantren. Sambil menyeka peluhnya, ia mengatakan bersyukur masih dapat menyekolahkan anak-anaknya di pesantren dengan hanya bekerja sebagai penjual es Batu. Beliau kemudian pamit. Menggelindingkan kembali ‘pit kebo’ nya. Dan tersenyum dengan senyuman khasnya.

Pertemuan dengan mas Yadi ini kemudian mengingatkan saya pada tulisan Emha Anun Najib di salah satu bukunya yang mencoba memberi tafsiran lain dari puisi Khalil Gibran mengenai anak: "Anakmu bukanlah milikmu. Mereka adalah putra-putri sang hidup yang senantiasa rindu pada diri sendiri……."

Emha dalam bukunya itu menuturkan, puisi Khalil Gibran adalah untuk mengingatkan kita agar berlaku  bijak dalam menyikapi pilihan-pilihan yang ditetapkan anak dalam mengembangkan potensi, kreativitas, dan keahliannya. Tidak sepantasnya orang tua memaksakan keinginan dan harapannya kepada anak, membentuk seluruh dunianya, sehingga tanpa disadari justru mereduksi atau bahkan menghancurkan potensi yang dimiliki anak tersebut. Namun untuk masalah akidah dan akhlak, masalah tujuan hidup, maka puisi Khalil Gibran tersebut harus  dikritisi. Untuk masalah mendasar tersebut,  "anakmu adalah benar-benar anakmu". "Anak kita adalah benar-benar anak kita". Kita harus berupaya keras mengarahkannya. Menjaga akidahnya dan membentuk karakternya !

Pada sisi inilah saya merasakan bagaimana kearifan mas Yadi penjual es Batu membuat pilihan tepat terhadap anak-anaknya di tengah hiruk pikuk kehidupan remaja yang makin jauh dari nilai-nilai. Beliau mungkin tidak pernah membaca puisi Khalil Gibran atau tulisan Emha. Namun dengan segala kesederhanaannya, dengan memasukkan anak-anaknya ke Pesantren, tanpa disadari beliau telah melakukan tindakan  yang brilian yang menggugat pemikiran penyair besar Khalil Gibran tentang anak.  Bahkan untuk itu, demi akidah dan karakter anak-anaknya, beliau rela menomorduakan kesehatannya. Baginya akidah dan akhlak adalah segalanya.

Saya menjadi teringat kembali saat-saat di mana saya menikmati film Bulan Tertusuk Ilalang di sebuah tempat kuliah yang malamnya disulap menjadi tempat pemutaran film di salah satu PTN terkemuka di Bandung. Saya ingat ada sosok seperti mas Yadi yang dimunculkan oleh Garin dalam karakter sosok tua buta penabuh gamelan. Sosok yang sederhana namun kematangan jiwanya  dan keteguhannya memegang prinsip mampu membuat sebuah padepokan seni yang  lesu menjadi bergairah kembali.

Ketika sang guru padepokan wafat. Tidak satu pun baik Bulan maupun Ilalang yang mampu bangkit dari keterpukulan untuk menggantikan sang guru memimpin dan menghidupkan kembali padepokan seni. Ilalang,  meski memiliki bakat seni yang besar tak mampu menghilangkan bayang-bayang sejarahnya yang membuatnya kerdil. Sementara Bulan, seorang wanita yang mengagung-agungkan kebebasan, justru terjebak pada bayang-bayang sang guru yang tanpa sadar mereduksi habis sifat kemandiriannya.

Hanya seorang tua buta yang masih bisa berfikir jernih, seorang pemukul gamelan yang selama ini sama sekali tidak pernah diperhitungkan. Dengan kesederhanaan, kebersahajaan dan keteguhannya memegang prinsip, orang tua buta ini yang kemudian mampu membangkitkan kembali padepokan seni yang hampir mati  menjadi hidup dan lebih semarak.

Ya, orang tua buta yang tiap hari dan tiap malam di kala sepi memukul-mukul gamelan untuk dicocokkan suaranya dengan suara gamelan standar !

Terima kasih mas Yadi………

Apakah Kita akan Berhenti ?

Monday, June 11th, 2007

    *untuk siapa saja yang senantiasa berusaha memperbaiki diri

Apakah kita akan berhenti

hanya karena bunga mawar tak mekar

atau melati yang kemarin mengembang layu kembali ?

Apakah kita akan berhenti

seperti halnya semesta yang tak pernah berhenti menari

kita pun tak kan pernah berhenti

Tak !

Jika Aku Diminta Menggambar

Sunday, June 10th, 2007

jika aku diminta menggambar

akan kugambar matahari yang di atasnya

anak-anak kecil riang berlari

jika aku diminta menggambar

akan kugambar bulan

yang di atasnya wanita-wanita

tengah membelai lembut anaknya

jika aku diminta menggambar

akan kugambar bumi

yang di atasnya lelaki-lelaki

tegar mengajari anaknya menyikapi kehidupan

Kepada Putriku Samudra Puspa Kenanga

Sunday, June 10th, 2007

*Puisi ini semoga menjadi doa agar aku dikaruniai anak perempuan yang shalihah

Duduklah di sini anakku

di samping ayahmu

biar kucium keningmu

yang menceritakan padamu tentang cinta

bahwa apa yang dinamakan cinta

tak serumit yang kaubayangkan

karena sejak semula keberadaanmu pun karena cinta

maka tak perlu kau bersusah payah memahaminya

cukup kau ceburkan dirimu pada telaga semesta

yang memantulkan ketenangan

jangan kau terjebak pada banyak telaga yang memikat

menimbulkan gelora

maka satukan dirimu anakku

pada telaga semesta itu

nanti akan ada bunga-bunga yang mengalir menghampirimu

ciumlah harumnya

dan rawatlah yang terharum pada pojok terindah hatimu

jika kau telah siap untuk itu

Merapatlah lebih dekat anakku

sandarkan kepalamu ke dada ayahmu

agar dapat kau dengar detak jantungku

yang menceritakan padamu tentang hidup

bahwa apa yang dinamakan hidup tak sesederhana yang kaubayangkan

karena sejak semula kehidupan ini tak pernah kita inginkan

maka bercerminlah anakku

pandangi seluruh tubuhmu

akan kaudapatkan dari setiap lekukan itu

makna terpenting dari hidupmu

bahwa kau akan menjadi seorang ibu !

Merapatlah lebih dekat lagi anakku

biarkan rambutmu tergerai di bahu

agar dapat kubelai hitam rambutmu

yang menceritakan padamu tentang kebanggaan

bahwa apa yang dinamakan kebanggaan

bukanlah mengejar kesamaan

mengorbankan citra dirimu terbang bersama debu

namun jadilah kau seperti batu

yang kokoh di antara derasnya arus sungai yang mengalir

yang menjadi tempat berpijak siapapun yang hendak menyeberangi sungai itu

nanti kau akan tahu

bahwa kebanggaan itu adalah

ketika kau mampu sujud di setiap gerakmu

tanpa ada sedikit pun rasa bangga di hatimu

Maka bersiaplah anakku

belajarlah dari daun-daun dan induk ayam yang mengeram

di kebun belakang rumah dan kandang-kandang kayu milik kita

sering-seringlah kau menengoknya

akan kaudapatkan darinya semangat pengorbanan

untuk menumbuhkan sesuatu yang baru

bercengkeramalah dengan kupu-kupu anakku

setiap pagi atau sore ketika mereka berlalu lalang

di atas taman bunga kita

agar dapat kauresapi perjuangannya yang berat dalam menempa jiwa

Ulurkan tanganmu anakku

dan biarkan ayah menggenggam jarimu

agar dapat kauyakinkan diriku

akan kelembutan dan ketegaran hatimu