Pelajaran dari Business Day

Beberapa waktu yang lalu, di sekolah anak saya diselenggarakan Business Day. Kegiatan ini sepertinya sangat mengasyikkan. Anak-anak diminta menjual hasil karyanya selama satu semester lalu dan sebuah karya yang khusus untuk business day. Untuk karya yang khusus ini orang tua harus terlibat. Bisa dibayangkan betapa sibuknya istri saya menyiapkan karya yang akan dijual tersebut. Sedang anak saya cuek saja, seperti biasa main game, nonton TV, perang-perangan, dll. Sampai sehari menjelang hari H nya anak saya masih cuek.  Akhirnya istri saya memutuskan membuat bunga dari kertas warna-warni. Malam hari, ketika istri saya begadang membuat bunga kertas itu, anak saya tidur dengan nyenyaknya tanpa beban.

Esoknya, begitu melihat bunga itu, anak saya berteriak kegirangan. Ia sangat menyukai bunga buatan ibunya. Dia mulai pasang harga. “Bagaimana kalau saya jual Rp. 2500,-, Bunda. Katanya. “Tidak !” Jawab istri saya. “Rp. 5000,- !”.  Anak saya menjawab cepat. “Nggak mau. Maunya Rp. 2500,-“. Akhirnya istri saya menyerah. Ia harus mengikhlaskan bunga-bunga buatannya, yang dirangkainya sampai tengah malam dihargai hanya Rp. 2500,-. Wah ! Hanya balik modal saja.

Sampai di sekolah, dagangan bunga anak saya cukup laku. Tinggal empat buah. Tapi aneh. Ketika istri saya menjemput ke sekolah. Dia tidak mendapati anak saya membawa uang hasil jualannya sepeser pun. Ditanya ibunya, anak saya menjawab dengan riangnya sambil menunjukkan tiga benda di tangannya, yaitu hiasan dinding dari karton yang tidak begitu bagus dan dua buah jam dari kertas. Ternyata seluruh uang hasil jualannya dibelikan ketiga benda itu.Istri saya mulai cemberut dan menanyakan alasan membeli ketiga benda itu.

Anak saya menjawab dengan tangkas dan tanpa diliputi rasa bersalah. Ia membeli hiasan dinding dari karton-yang menurut istri saya tidak begitu bagus itu- semata karena melihat bagaimana bersusah payahnya si Gumil temannya membuat hiasan tersebut di sekolah. Ia membeli dua buah jam, karena jam yang pertama buatan si Lukman ada keterangan menitnya. Anak saya yang sedang getol belajar jam merasa perlu membeli jam tersebut. Sedang jam yang satunya, sebenarnya jelek, tapi ia beli juga karena merasa kasihan dagangan temannya yang jualannya tidak laku-laku. Istri saya masih cemberut. Dan tambah cemberut lagi ketika mendengar bahwa sebenarnya anak saya mendapat door prize sepasang pena dari Bank Mandiri karena hasil karyanya dianggap bagus, tapi lagi-lagi pena itu ia berikan ke temannya. Ketika ditanya ia menjawab bahwa ia sudah punya di rumah sedangkan temannya tersebut belum punya.

Ketika saya pulang ke rumah waktu itu, istri saya masih cemberut dan menceritakan kejadian tersebut di atas dengan semangat. Saya malah tersenyum. Istri saya mencemberuti  keberhasilannya sendiri menanamkan nilai-nilai. Bahwa kita harus menghargai hasil usaha orang lain seburuk apa pun, bahwa segala sesuatu harus dilihat manfaatnya, bahwa kita sedapat mungkin harus memperhatikan kepentingan orang lain dan berbagi.

Beberapa waktu yang lalu gantian saya yang cemberut, kepala pening dan pusing sebelah. Saya menceritakan apa yang saya alami. Kali ini istri saya yang tersenyum dan mengingatkan saya kembali untuk ikhlas. Saya tersadar.  Sambil memandangi senyumnya, saya bergumam dalam hati. “Ah, istriku, bagaimana mungkin aku bisa membencimu ?!”

Leave a Reply