One-To-One Relationship : Kiat Hubungan Interpersonal

February 27th, 2008 by wisnuak

Ada yang menarik dalam konsep relationship pada basis data, khususnya mengenai one-to-one relationship. Konsep ini mengenai bagaimana mentransformasikan ER model yang mengandung one-to-one relationship ke dalam model relational. Apakah dua buah entitas yang memiliki one-to-one relationship ini akan ditransformasikan menjadi satu tabel atau dua tabel ? Kalau dua tabel, primary key dari tabel yang mana yang harus ditempatkan pada tabel yang lain menjadi foreign key ?

Saya akan mulai dengan contoh. Andaikan ada dua entitas : mahasiswa dan komputer. Jika asumsinya setiap mahasiswa mendapat fasilitas satu komputer dan setiap mahasiswa selalu menggunakan computer yang sama untuk melakukan praktikum dari semester awal sampai dia lulus, maka relationship antara entitas mahasiswa dan computer ini adalah one-to-one relationship. Jika ternyata masing-masing mahasiswa mendapat satu computer dan tidak ada computer yang tersisa (semua telah dialokasikan kepada mahasiswa), maka kedua entitas ini dinamakan memiliki mandatory one cardinality (total participation). Untuk kasus yang demikian, maka transformasi model ER ke model relational menjadi satu tabel. Kita satukan kedua entitas dengan atribut-atributnya ke dalam satu tabel.

Sebagai contoh: entitas mahasiswa memiliki atribut NRP, dan entitas computer memiliki atribut kode_komp dan tipe. Misal entity instance dari entitas mahasiswa adalah M={M1, M2, M3} dan entity instance dari entitas computer adalah K={(K1, T1), (K2, T2), (K3, T3)}, maka model relasionalnya menjadi tabel baru yang mengandung tiga field NRP, Kode_komp, dan Tipe dengan entity instancenya  misal M_K = {(M1, K1, T1), (M2, K2, T2), (M3, K3, T3)}.

Dalam konteks hubungan interpersonal (hubungan pribadi antara dua orang manusia), ini adalah hubungan interpersonal yang ideal. Jika analoginya, diri kita adalah representasi dari suatu entitas, dengan atribut berupa keinginan, harapan, dll. Dan orang lain adalah entitas yang lain. Maka jika setiap entity instance kita (keinginan/harapan) bertemu tepat dengan entity instance (keinginan/harapan) dari orang lain…. Maka sesungguhnya hati kita dengan hati orang itu seperti telah menyatu. Kita dapat merasakan apa yang orang lain rasakan begitu pula sebaliknya. Ini mungkin seperti yang diisyaratkan Nabi : tidak beriman seseorang sebelum dia mencintai suadaranya seperti kecintaannya  pada dirinya sendiri.    

Tapi memang sulit mewujudkan relationship yang ideal seperti di atas. Kenyataannya, kita sering berusaha memahami orang lain tetapi merasa bahwa orang lain tersebut belum memahami kita penuhnya. Konsep one-to-one relationship berikut akan memperjelas bagaimana kita harus bersikap.

Kembali ke contoh entitas mahasiswa dan computer. Jika asumsinya departemen tersebut memiliki computer yang berlebih. Maka setiap mahasiswa mendapatkan tepat satu computer yang berarti entity instance dari entitas mahasiswa berpartisipasi penuh pada relationship (mandatory one cardinality). Sementara itu, karena jumlah computer berlebih, maka ada computer yang menganggur (alias tidak dialokasikan kepada mahasiswa) sehingga entity instance pada entitas computer hanya berpartisipasi sebagian (optional one cardinality). Untuk kasus yang demikian, ketika ditransformasikan ke model relational, akan  menghasilkan dua tabel, yaitu : tabel mahasiswa dan tabel computer. Dan yang terpenting adalah primary key dari tabel yang memiliki optional one cardinality (dalam hal ini tabel komputer harus ditempatkan ke  tabel yang mandatory one cardinality (dalam hal ini tabel mahasiswa) sebagai foreign key. Tidak boleh terbalik. Jika terbalik, akan banyak nilai Null pada tabel komputer.

Lebih jelasnya : jika misalnya M = {(M1, M2, M3} dan K = {(K1, T1), (K2, T2), (K3, T3), (K4, T4), (K5, T5)} maka setelah ditransformasikan ke dalam model relasional menjadi dua tabel M dan K, yaitu:  M = {(M1,K1), (M2,K2), (M3, K3)}, di mana K1, K2, dan K3 sebagai foreign key dan K = {(K1, T1), (K2, T2), (K3, T3), (K4, T4), (K5, T5)}.

Jika penempatan primary key terbalik. Maka akan menghasilkan :

M = {M1, M2, M3}  dan K = {(K1, T1, M1), (K2,T2, M2), (K3, T3, M3), (K4, T4, Null), (K5, T5, Null)}.

Dalam konteks hubungan interpersonal. Jika kita merasa tidak semua keinginan/harapan dipenuhi oleh orang lain tersebut maka analoginya kita seperti entitas computer pada contoh di atas (yaitu memiliki optional one cardinality)  sedangkan orang lain  tersebut yang mungkin telah merasa cukup puas dengan relationship yang kita bangun analoginya seperti entitas mahasiswa (yang memiliki mandatory one cardinality). Sesuai dengan contoh di atas. Kalau kita menemui kasus yang demikian, maka seharusnyalah kita tetap bersabar/berusaha memahami orang lain tersebut. Kita berusaha dengan ikhlas untuk terus menanamkan identitas kita (primary key) ke dalam lubuk hati orang lain tersebut. Berusaha untuk selalu memulai memahami, memaafkan, menyapa, dll. Karena jika kita berbuat sebaliknya, menuntut orang lain tersebut untuk selalu memulai memahami kita, di dalam hati kita akan ada ruang ruang kosong. Jiwa kita akan diliputi kehampaan-kehampaan. Ini mungkin yang diisyaratkan oleh Nabi Muhammad saw, manusia yang paling sempurna akhlaknya, agar kita “menyebarkan salam”, “menyebarkan senyum”, “dan selalu menjadi yang lebih dulu memaafkan”.

Wallahu ‘alam

Mencari Harta Karun - Bab 2 : Di Hutan

September 12th, 2007 by wisnuak

       –lanjutan cerita Bara

    "Wah, sudah pagi," kata Ageng.
    Tiba-tiba di meja makan ada sesuatu.
    Tiba-tiba ada teriakan, "good morning Ageng," kata Fahri.
    Ternyata di meja makan sudah ada semua. Mereka pun berjalan ke hutan. Tiba-tiba di jalan ada Serigala tidur. Mereka berjalan dengan hati-hati. Di hutan ada pohon bekas ditebang. Fahri pun tersandung. Mereka pun memberi obat pada Fahri. Tapi tiba-tiba ada lubang. Mereke terperangkap kecuali Fahri. Fahri mengambil tali tapi tidak dapat menarik mereka.
    "Ada ular !" kata Fahri.
    "Mana ?" kata Bara.
    "Dan ada Kalajengking…waaa…." teriak Fahri.
    "Kita gali lubang," kata Lukman. "Hei lihat ada Trenggiling !"
    "Aku menunggu, ayo gali sampai dalam, "kata Fahri. "Wah ! Aku mau jatuh gara-gara kalian.
    "Kau berdiri di sini sih.." kata Bara.
    "Maaf, aku tidak tahu kalian akan menggali tepat di sini sih.., "kata Fahri.
    "Ya, sudah. Ayo kita lanjutkan !" kata Bara. "Sudah Malam."
    "Iya sudah malam, "kata Lukman. "Hei lihat ada serigala."
    "Apa dia akan memakan kita ?" tanya Fahri.
    "Mungkin iya, "kata Ageng.
    "Wah ada serigala, "kata Bara. "Dulu aku pernah mimpi itu. Maaf, ya serigala…Ayo lariiiiii !" teriak Bara.
    "Kau terlambat, "kata Fahri.
    "Baiklah, tapi tadi aku melihat serigala, "kata Bara.
    "Kami melihatnya lebih dulu, "kata Fahri, Lukman, dan Ageng.
    "Dan di mana sembilan serigala itu ?"
    "Itu !" kata Bara.
    "Mana ? Tidak ada serigala, "kata Ageng.
    "Itu ada sembilan serigala, "kata Fahri.
    "Sembilan serigala. lariiiii, "kata Fahri, Lukman, dan Ageng. "Bara di mana, ya ?"
    "Hei ! Aku menemukan gua, "kata Bara.
    "Iya, aku tahu, Bara ? Apa katamu tadi ? Akhirnya aku menemukanmu, "kata Fahri.
    "Ayo istirahat di sini !" kata Bara."Auuu….apa itu ?" teriak Bara.
    "Itu kandang sembilan serigala," kata Fahri.
     "Bukan. Itu seribu serigala. Lariiiii !" Kata Bara.
    "Tidak bisa. Kita dikepung, kata Fahri.
    "Ini seperti di mimpiku," kata Bara. "Kemarin saat aku terperangkap ke awan dan kalian memanggilku komandan dan kalian menghilang dan aku di hutan sendirian dan aku dimakan tinggal topinya saja. Oh…tidak !"
    "Ke mana Ageng ?" tanya Bara. "Jangan-jangan dia dimakan serigala. Oh…. tidaak..!"
    "Hei…ke sini !" kata Ageng.
    "Bagaimana kau bisa ke situ ?" Kata Bara.
    "Lewat sini. Tangga rahasia, "kata Ageng.
    Mereka pun memanjat tangga.
    "Aduuh…aku capai, "kata Fahri.
    "Aku juga. Tidak hanya kamu, "kata Bara, Ageng, dan Lukman sambil berteriak di gua ini.
    "Hei lihat ada jalan keluar. Tapi kita harus  lompat tinggi, "kata Fahri.
    "Terpaksa," kata Ageng. "Auuuu… jangan himpit aku ! Harusnya aku duluan lompat. Baru setelah satu abad kamu gantian lompat, "kata Ageng.
    "Apa, satu abad ? Bisa mati duluan. Ada serigala. Lariii…."teriak Fahri.
    "Hah…dia lari entah ke mana. Tadi ada serigala dia lari, "kata Ageng.
    "Waaa…." kata Bara dan Lukman sambil bertabrakan.
    "Aku capai," kata Ageng. "Hei ada orang."
    "Hei, kau siapa ?" kata Lukman.
    "Aku kapten Bajak Laut," katanya.
    "Hua..ya…awas jangan sampai salah orang. Kau adalah mata-mata," kata Bara.
    "Hei buktinya itu sungai yang di peta, "kata orang itu.
    "Iya juga, ya. Kaulah yang mempunyai peta itu," kata Bara.

   

(Bersambung bab 3 Laut Rahasia)

Pesan tak Langsung pak Waras :” Mumpung Belum Terlambat, Belajarlah Kritptografi”

August 16th, 2007 by wisnuak

Anda kenal pak Waras ? Saya juga tidak. Tapi beberapa
hari yang lalu saya melihat namanya disebut-sebut media masa. Bukan karena
‘menjinakkan’ gunung seperti yang dilakukan mbah Marijan, tapi yang
dilakukannya jauh lebih dasyat. Pak Waras mengembalikan kelebihan uang ganti
rugi dari PT Lapindo akibat sawahnya tergenang lumpur. Dan tidak main-main,
uang ganti rugi yang dikembalikanya 410 juta ! Subhanallah.

Ceritanya pak Waras seharusnya menerima uang ganti
rugi atas sawahnya yang tergenang lumpur Lapindo sekitar 50 juta an. Tapi tiba-tiba
di rekening tabungannya telah tetransfer 460 juta rupiah. Melihat uang sebesar
itu dengan tergopoh-gopoh ia melaporkannya ke kepala desa. Dan akhirnya dengan
bantuan kepala desa ia transfer kembali uang 410 juta kepada PT Lapindo. Ketika
ditanya wartawan kenapa beliau mengembalikan uang yang begitu besar itu.
Jawabnya singkat, “saya tidak ingin hidup penuh kecemasan karena dikejar-kejar
rasa bersalah.” Subhanallah, di tengah-tengah ketidakjujuran yang merajalela,
atau di tengah jaman yang makin edan ini(bhs jawa, artinya gila), ternyata
masih ada yang benar-benar masih waras
(lawan kata edan-masih menggunakan fikiran dan hatinya). Ya Pak Waras itu ! Saya terharu dan malu
membaca berita itu.
Kalau saya berada pada situasi yang sama dengan pak Waras, apa saya bisa sejujur dan sekuat
itu, ya ?

Berita itu kalau tidak salah
dimuat tanggal 14 Agustusan, tepat pada hari Pramuka. Saya jadi teringat lagi masa
kecil saya yang menyenangkan ketika ikut pramuka.
Dengan pakaian serba coklat, topi, peluit, dan atribut
lainnya, saya menjadi merasa sangat gagah dan bersemangat. Yang paling saya
suka dari kegiatan pramuka adalah ketika memecahkan sandi, sebuah kode untuk
menyamarkan pesan. Saya biasanya menjadi andalah regu saya untuk memecahkan
kode-kode sandi itu.
Pada kegiatan pramuka itu mekanisme penyandian yang dilakukan masih
sederhana. Ada yang diambil beberapa huruf yang paling depan saja, paling belakang, atau huruf yang di
tengah. Biasanya tergantung kuncinya. Sebagai contoh kalau kuncinya berbunyi :
“Kalau makan ikan ambil kepalanya.” Berarti yang harus diperhatikan adalah
beberapa huruf paling depan dari masing-masing kata. Misal kalau ada pesan
SANTAI DIAM, kemungkinan pesan aslinya berdasarkan kunci ”Kalau makan ikan
ambil kepalanya” itu adalah SANDI.

Saat kuliah S2, keasyikan bermain
dengan sandi waktu kecil itu memotivasi saya untuk mendalami kriptografi. Kriptografi,
secara umum adalah ilmu dan seni untuk menjaga kerahasiaan berita/pesan. Untuk
mencapai tujuan kriptografis, yaitu menjaga kerahasiaan berita/pesan,
diperlukan suatu algoritma sandi. Algoritma tersebut harus memiliki kekuatan
untuk melakukan konfusi/pembingungan (confusion) dari teks terang sehingga
sulit untuk direkonstruksikan secara langsung tanpa menggunakan algoritma
dekripsinya dan difusi/peleburan (difusion) dari teks terang sehingga
karakteristik dari teks terang tersebut hilang. Proses untuk menyamarkan pesan
itu dikenal dengan enkripsi. Sedangkan proses untuk mengembalikan pesan
tersebut disebut dekripsi.

Jika kita melakukan enkripsi
terhadap suatu teks kata SAYA misalnya maka hasil enkripsinya menjadi karakter-karakter
yang tak bermakna yang sulit dibaca atau bahkan karakter kosong (yang dalam
format teks, tidak terlihat). Sebagai contoh teks SAYA kalau dienkripsi dengan
algoritma tertentu dan kunci tertentu bisa jadi menhasilkan teks berikut #@ !
(tergantung algoritma dan kunci yang digunakan). Dalam hal ini bisa jadi S menjadi #, A menjadi @, Y
menjadi karakter kosong, dan A teakhir menjadi ! (Namun tidak selau terjadi
pemetaan yang demikian, tergantung algoritmanya).Teks hasil enkripsi tersebut,
yaitu : #@ ! bagi kita itu tidak memiliki makna.Teks hasil enkripsi ini disebut
chipertext. Untuk mendapatkan makna
aslinya yaitu SAYA kita harus melakukan dekripsi terhadap chipertext ini dengan menggunakan algoritma yang sama dengan saat
mengenkripsi dan menggunakan kunci yang sama atau pun berbeda tergantung apakah
algoritma yang digunakan kunci simetris atau asimetris.

Kembali kepada teks bermakna atau
yang tidak bermakna, dua-duanya pada prinsipnya terdiri dari serangkaian bit.
Karena aturan ASCII, maka rangkaian bit-bit yang satu misalnya direpresentasikan
sebagai S, rangkaian bit yang lain sebagai #. Karena kita sudah terbiasa (atau
sepakat) bahwa karakter yang bermakna adalah A sampai Z, maka ketika diberikan
sebuah teks SAYA, dengan cepat kita membaca dan memahaminya. Namun jika
diberikan teks hasil enkripsi #@ !, kita menangkapnya sebagai pesan tak
bermakna. Dengan demikian tujuan menjaga kerahasiaan pesan itu tercapai. Kita
hanya bisa memecahkan kerahasiaan pesan itu, dengan mengembalikan pesan tak
bermakna itu ke aslinya jika memiliki kuncinya.

Nah, kalau kita, manusia saja
dengan mudah mengubah teks yang bermakna menjadi tak bermakna atau karakter
bermakna menjadi karakter kosong dan kemudian mengembalikannya kembali dengan
algoritma dan bahkan kunci yang sama. Apalagi Allah! Bukankah akan mudah bagi
Allah menciptakan makhluknya, kemudian megubahnya (meng’enkripsinya’) menjadi tulang
belulang yang berserakan, atau bahkan hancur lebur atau lenyap sekalipun,
kemudian membangkitkannya (men’dekripsi’kannya) kembali seutuh-utuhnya ?
Bukankah manusia dan makhluk lainnya,
tulang belulang, atau debu hasil kremasi, semua itu  hanya representasi dari kode-kode
juga ? (Sementara ini yang sudah diketahui manusia adalah kode DNA). Seperti halnya dengan teks, suara, atau citra. Hanya beda ‘format’nya saja ? Wallahu alam.

            Kembali lagi ke Pak Waras, dengan kejujurannya mengembalikan kelebihan
uang ganti rugi itu, beliau menunjukkan betapa tingginya tingkat pemahamannya
akan makna hidup. Bahwa ada kehidupan lagi sesudah mati, di mana kita akan
dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatan yang dilakukan di dunia ini. Apa
yang dilakukan pak Waras seperti menohok orang-orang yang mengaku dirinya
cerdik pandai, tapi keluasan ilmunya tidak mampu membawa pada pemahaman akan
makna hidup sebenarnya. Mereka terjebak pada pemahaman keliru yang bersumber
dari pemikiran filsafat yang keliru pula, bahwa : ”Aku ada karena aku ada”. Atau
”aku ada karena aku berfikir.” Untuk orang-orang seperti ini dan yang
mengikutinya, yang tidak lagi mempercayai kitab suci sebagai  bacaan
rujukannya, pak Waras seperti ingin menyampaikan pesan tak langsungnya: ”mumpung
belum terlambat belajarlah kriptografi!”

Mencari Harta Karun - Bab 1 : Rencana

August 13th, 2007 by wisnuak

      ini tulisan Bara, anakku, usia 8 tahun, 2 bulan
                (diedit tanda bacanya dan struktur penulisannya)

    Hari ini adalah hari libur sekolah. Bara, Fahri, Lukman dan Ageng mereka berempat akan berencana untuk berlibur. Mereka berpikir, apa ya rencana liburan kita ?
    Kata Lukman, "Oh I am no tahu".
    "Tanya saja dirimu sendiri," jawab Fahri.
    Jadi mereka memutuskan untuk berlibur ke pantai. Mereka membawa alat yang diperlukan untuk ke pantai. Mereka naik mobil Lukman.
    Tiba-tiba, "Lukmen your car ini gembes atau gimana ?" kata Fahri.
    "Sepertinya kita ke bengkel dulu," kata Bara.
    "Baiklah," kata Ageng.
    Setelah bannya diperbaiki lalu jalan lagi. Setelah sampai mereka mengeluarkan semua barang-barang. Mereka duduk dan bermain di sana. Tiba-tiba Bara melihat ada botol di air ternyata isinya peta harta karun. Bara jadi tahu kalau hari ini kita akan berpetualang.
    "Jadi rencana kita-kita ke pantai atau berpetualang ?" kata Fahri.
    "Jangan ngomong Bahasa Inggris atau bahasa apa saja, kalau tidak aku pukul dengan tongkat," kata Ageng.
    "Memangnya kenapa ?" kata Fahri.
    "Karena aku ora iso bahasa asing," kata Ageng.
    "Kamu sendiri pakai Bahasa Jawa," kata Fahri.
     "Sudah jangan bertengkar," kata Bara.
    "Ow…siap, Pak. Oh…maksudku Kapten. Maksudku….Nyonya. Maksudku… Bara. Maksudku….Oh…iya," kata Fahri.
    "Jadi tidak kita berpetualang ?"
    "Oh..jadi bos ! Jadi…."
    "Ayo..cepet. Siapkan barang-barang. Jangan cerewet. Cepet !" kata Bara.
    "Oh… iya bos."
    "Cepet !"
    "Baik !" kata semuanya kecuali Bara.
    Tiba-tiba Bara tertidur menunggu mereka bertiga dan tiba-tiba Bara terangkat ke atas awan.
    Fahri, Ageng, dan Lukman selalu memanggil Bara Komandan, seperti yang dibilang Fahri. Dan dia memiliki kerajaan dan berbagai hewan. Kadang dia suka dipanggil raja, pangeran, atau baginda.
    Suatu hari ada raja dari seberang yang jahat. Mereka berperang, tapi Bara menang. Dan lalu ada teriakan: "bangun…bangun…!" Dan mereka bertiga menghilang. Bara pun terbangun tapi belum ada mereka bertiga padahal sudah 12 jam. Sudah jam 9 malam. Jangan-jangan mereka sudah membuat tenda di hutan. Bara takut saat malam-malam. Apalagi di hutan dan sendirian. Tiba-tiba ada mata yang bersinar tetapi banyak. Lalu Bara berteriak minta tolong. Tiba-tiba ada auman singa yang keras sekali. Dan mereka menggigitnya sampai tinggal topinya saja yang tidak termakan. Lalu Bara berteriak. Ternyata itu cuma mimpi.
    Sekarang masih jam 10 pagi. Dan itu mereka datang. Dan mereka pun pergi ke hutan serigala. Serigala hidup di hutan rimba kawasan Amerika Utara, Eropa, dan Asia. Suara lolongannya sering terdengar ketika bulan bulan purnama. Serigala memiliki indra penciuman, pendengaran, dan penglihatan yang sangat tajam sehingga jarang sekali mangsa buruannya yang dapat melarikan diri. Serigala berburu makanan secara berkelompok kemudian menyerangnya secara bersama-sama. Binatang berbobot 20-50 kg ini akan menyobek nyobek sehingga menjadi serpihan kecil. Dia berburu ayam, kambing, rusa, bahkan manusia (Sebagian tulisan pada paragraf ini Bara ambil dari ensiklopedia binatang).
     Karena takut mereka gugup. Ada yang berteriak.
    "Bawa obor. Bawa  tenda. Tidak…eh…maksudku  bawa….".
     "Jangan becanda !"kata Bara. "Terus bawa makanan. Bawa minuman. Bawa semua peralatan !"
    Semua peralatan kami bawa.
    Dan..
    "Ini dia…."
    "Apa itu ?" kata yang lain.
    "Alat ini kalau kita memencet tombol ini, maka akan berbentuk rumah yang besar."
    "Jadi kita hanya butuh tombol ini saja," kata Fahri.
    "Wow…tapi kalau rusak ?" kata Bara.
    "Kita kan punya tenda dan rumah ini. Ada kolam renangnya,"kata Fahri. "Dan kamarnya bernomer."

(Bersambung Bab 2: di Hutan…)

    
   

Pak Kadri Jagoan Watermarking

July 22nd, 2007 by wisnuak


 

Beberapa hari
yang lalu saya diminta seorang mahasiswa S1 untuk menjadi moderator seminar
skripsi. Topik penelitiannya tentang watermaking. Seminar tersebut menyedot perhatian cukup
banyak mahasiswa. Saya kira mahasiswa ini cukup berhasil menyajikan hasil
penelitian tersebut. Apalagi gayanya yang khas membuat suasana seminar jadi semarak
karena banyak yang terpingkal-pingkal. Termasuk saya. Pengetahuan dan wawasan
mahasiswa ini juga bagus. Disertai contoh-contoh, dia menjelaskan definisi watermaking dengan baik.

Menurut dia watermaking adalah suatu teknik yang
mengijinkan seseorang individu untuk menambahkan catatan hak cipta yang
tersembunyi atau pesan verifikasi lain ke dalam dokumen-dokumen, sinyal-sinyal
audio, atau citra. Kita dapat membuat watermark
ini visible atau invisible. Pada visible
watermark,
pesan verifikasi atau hak cipta tersebut dapat terlihat oleh
indera manusia. Sebaliknya pada invisible
watermark
, untuk melihatnya tidak cukup hanya mengandalkan indera, melainkan harus melewati proses
ekstrasi dengan metode komputasional tertentu. Biasanya pada saat ekstrasi invisible watermark diperlukan sebuah password yang disebut watermark key. Hanya orang yang memiliki
watermark key ini yang dapat
mengekstrasi dan melihat pesan verifikasi atau hak cipta tersebut.

            Asyik sekali
saya mengikuti seminar tersebut. Perasaan jenuh agak sedikit terobati. Bahkan
malamnya, saya masih terhanyut memikirkan watermarking.
Saya jadi ingat kembali masa-masa indah ketika kos di Tubagus Ismail Bawah Bandung, saat saya masih
kuliah S1. Ada
sebuah masjid di ujung jalan Sekeloa dan Tubagus Ismail Bawah itu. Orang-orang menamainya Masjid Al Ukhuwwah. Tidak terlalu besar, memang. Namun kegiatannya
cukup semarak. Dan siapapun yang pernah tinggal di sekitar masjid itu, bahkan
mungkin sampai sekarang, pasti mengenal suara yang membangunkan kita pagi-pagi
untuk melakukan sholat shubuh berjamaah. Suara itu, suara pak Kadri. Suara
azannya biasa saja. Nadanya juga sangat biasa. Tapi karena keistiqomahannya menyuarakan
azan di saat sebagian besar dari kita masih terlelap, maka suara itu menjadi
sulit dilupakan, bahkan meski saya sudah pindah ke Bogor sekalipun.

            Pak Kadri, waktu mudanya hanya seorang kernet angkutan kota. Saat saya kos di Tubagus Ismail Bawah itu beliau sudah memiliki 3 mobil angkutan, 3 rumah yang dikontrakan, 1
rumah yang ditinggali, tiga putri yang berjilbab rapi dan sudah berhaji pula ! (Ya… Allah mudahkanlah saya untuk
dapat menunaikan ibadah haji). Namun kesederhanaannya tidak berubah. Beliau
masih menyopiri sendiri salah satu angkotnya. Pun keistiqomahannya untuk menyuarakan azan
shubuh. Dan jika di masjid,  ada pengumuman  yang memberitahukan adanya sumbangan dari seorang ‘hamba Allah’ yang
cukup besar, kemungkinan dari pak Kadri. Beliau pula salah satu donatur tetap
beasiswa untuk anak-anak tidak mampu yang dulu pernah saya kelola, yang tidak pernah mau disebutkan namanya.

Saya menjadi
terkesiap. Bukankah ini contoh kongkrit watermarking
yang ditunjukkan pak Kadri? Jika watermarking yang diseminarkan mahasiswa
S1 itu diterapkan pada citra/gambar, bukankah pak Kadri telah berhasil
menerapkannya pada amal? Beliau telah melakukan visible watermarking terhadap amalannya  berupa kesederhanaan
dan keteguhannya menyuarakan azan shubuh. Orang-orang di sekitar masjid itu
tahu, tiap ada azan shubuh, itu adalah suara pak Kadri. Insya Allah malaikat akan mencatatnya sebagai amalan yang baik. Dan yang
membuat saya salut, bukankah beliau  telah melakukan invisible watermarking? Beliau berinfak, tanpa mau disebutkan namanya. Pesan infaknya bergema di Masjid tapi
tak banyak yang  tahu bahwa itu infak darinya. Namun  malaikat
pencatat amal baik pasti tahu, bahwa itu adalah amalan Pak Kadri, seorang hamba Allah yang
berusaha untuk tetap teguh dalam kesederhanaan, keistiqomahan, dan keikhlasan.
Semoga Allah menetapkannya dalam golongan orang-orang yang sholeh sampai akhir hayatnya. Amiin.


(Ya Allah jadikan pula hamba termasuk dalam
golongan orang-orang yang sholeh…. Amiin) 

 

Penjual Mie Ayam dan One-to-many Relationship

July 4th, 2007 by wisnuak

            Jika saya
sedang ingin masakan Semarang,
saya gelondorkan motor Vespa saya ke jalan Pajajaran menurun ke arah Warung
Jambu. Kemudian kira-kira di depan kantor Bank Muammalat yang baru saya
berputar berbalik arah menuju kantor Bank Muammalat yang lama di dekat gedung
PLN. Di pojok depan kantor itu ada gerobak kecil bertuliskan ”Soto Semarang”.
Seorang ibu yang sudah agak tua biasanya tersenyum begitu melihat saya
memarkirkan motor Vespa dan menyapa, ”Campur, Mas”. Mendengar pertanyaan itu
biasanya saya langsung mengangguk, kemudian mencari bangku yang mengahadap ke
jalan raya, dan dengan cepat tangan saya
mengambil sate telur puyuh yang telah tersedia di atas meja.

Sementara soto
belum disajikan, sambil menyantap sate telur puyuh itu, mata saya tertuju pada
penjual mie ayam yang terletak di pinggir jalan kompleks pertokoan itu. Penjual
mie ayam itu masih muda, laki-laki, rapi dandannya. Bersepatu dan berkaos kaki
pula. Sebenarnya pelanggannya tidak terlalu ramai (tapi memang lebih ramai dari
Soto Semarang langganan saya…..). Ini mengindikasikan mungkin masakannya biasa-biasa saja. Namun kalau saya
amati dia punya pelanggan tetap. Dan yang membuat saya kagum adalah dia begitu
menghayati dan  tampak bergembira ketika
melayani pelanggannya.

Dia bukan seperti penjual mie ayam lain yang
sering saya jumpai di jalan atau tempat-tempat keramaian. Saya tidak
bisa melupakan bagaimana gayanya ketika memasukkan mie dan sayur-sayuran ke
dalam air mendidih kemudian mengangkatnya kembali dan menuangkannya ke mangkok.
Semuanya terlihat seperti berirama. Bahkan ketika menuangkan mie ke mangkok,
dia sedikit menyentakkan mie tersebut sehingga agak sedikit meloncat namun mendarat
tepat di dalam mangkok yang sudah disiapkan. Begitu pun ketika menuangkan kecap
dan saos tomat, ada sentakan-sentakan khas, seperti sebuah ketukan yang
mengiringi senyumnya yang tak pernah lepas dari bibirnya. Gerakannya tangkas.
Pelayanannya cepat. Barangkali kalau tidak ada Soto Semarang saya mungkin sudah
menjadi salah satu pelanggannya.

Saya kira semangat dan kegembiraannya dalam
bekerja itulah yang menjadi ciri khasnya dan kunci keberhasilanya
mempertahankan pelanggan. Saya yang belum pernah membeli mie ayam itu saja
sangat merasakan aura tersebut, apalagi pelanggannya yang selalu ia suguhi gaya
memikat, tangkas dan senyuman. Penjual mie ayam tersebut memahami betul
bagaimana ia harus bersikap untuk menanamkan identitas dirinya di hati para
pelanggannya.

            Penjual mie ayam ini sebut saja Mas Fulan,
meskipun mungkin tidak pernah mengecap bangku kuliah, justru lebih memahami konsep dalam basisdata mengenai one-to-many relationship. Andaikan Mas Fulan ini adalah  salah satu entity instance dari entitas Penjual Mie Ayam, sedangkan Pelanggan
adalah entitas yang lain, dengan asumsi bahwa masing-masing pelanggan hanya
setia pada seorang penjual mie ayam, maka Mas Fulan ini telah dengan tepat
menerapkan bagaimana seharusnya one-to-many
relationship
ini ditransformasikan ke dalam model relasional. Dalam model relasional, entitas-entitas ditransformasikan menjadi tabel-tabel. Sedangkan untuk
mewujudkan one-to-many relationship antara tabel Penjual Mie
Ayam dan Pelanggan, maka identitas (primary
key
)  tabel Penjual Mie Ayam diletakkan pada tabel Pelanggan. Itulah yang dilakukan Mas Fulan
 ! Untuk mewujudkan relationship antara dia dengan pelanggannya, dia berusaha
menanamkan dengan kuat identitas dirinya, berupa gaya yang unik, senyuman yang khas, dan kecapatan
pelayanan di hati para pelanggannya !

           Saya menjadi malu. Saya
yang lebih dari dua semester mengajar kuliah basis data, masih belum mampu
memahami makna tersembunyi dari konsep one-to-many
relationship
seperti yang difahami Mas Fulan ini. Sebagai dosen wali (pembimbing akademik), saya masih
belum mampu membuat mahasiswa saya secara terbuka dan berani mengkonsultasikan
permasalahan-permasalahan mereka kepada saya. Selama ini hubungan saya dengan
mahasiswa bimbingan akademik saya terkesan hanya formalitas saja. Selama
ini pertemuan kami terjadi hanya pada saat mereka membutuhkan tanda tangan saya
untuk pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) atau perubahan KRS. Tidak pernah
untuk yang lain. Boro-boro dengan bangganya mereka menceritakan
keberhasilan-keberhasilan kecil mereka, atau dengan penuh harap dan cemas
menceritakan kegelisahan-kegelisahan mereka kepada saya. Kalau ketemu pun paling hanya senyum kecil. Bahkan setelah
saya fikir-fikir, ternyata saya hanya ingat beberapa saja dari mahasiswa bimbingan akademik saya
tersebut ! Ups…!

          Sekali lagi, saya merasa malu. Saya terlalu
cuek dan tidak pernah sedikitpun berusaha secara serius menancapkan identitas
saya ke dalam hati mereka. Saya yang sebenarnya termasuk orang yang suka memotivasi
dan memperhatikan orang lain, tidak pernah berusaha dengan serius memotivasi dan memperhatikan ekspresi dan kegundahan wajah mereka. Padahal jelas antara saya sebagai Dosen
Pembimbing Akademik dan mereka sebagai Mahasiswa adalah one-to-many relationship. Jadi mana mungkin mereka yang harus
memulai menunjukkan identitasnya kepada saya ?

            Masih
diselimuti rasa bersalah ini, tiba-tiba muncul ide di kepala saya. Apa
sekali-sekali saya traktir mereka makan mie ayam di pinggir jalan Pajajaran itu
ya ?

              Tiba-tiba ada yang nyletuk. Ah… Bapak becanda, ya ? Masak pegawai negeri nraktir…. ? :(

             


Belajar dari Diagram Konteks

June 29th, 2007 by wisnuak

Selama bulan
Juni sampai Agustus ini, saya dituntut untuk memiliki tenaga dan kesabaran
ekstra. Bulan bulan tersebut biasanya akan banyak kegiatan bimbingan dan ujian
sidang mahasiswa diploma. Hampir tiap hari disodori sebuah gambar yang mungkin
untuk sebagian dosen terutama saya, kalau mau jujur sudah sangat bosan.
Bayangkan saja waktu kuliah S2 dulu ngubek-ngubek gambar ini. Kerja di IPTN
melototi gambar ini. Mengajar di Bandung juga berkoar-koar tentang gambar ini.
Kalau sedang ‘mroyek’ juga merangkai-rangkai gambar ini.  Sekarang di IPB sering ditanya, terutama oleh
mahasiswa, tentang gambar ini.

            Sebenarnya gambar ini sederhana saja. Hanya
terdiri dari sebuah bulatan,  beberapa
persegi empat, dan beberapa anak panah yang berasal dari persegi empat tersebut
menuju ke bulatan atau sebaliknya.
Banyak literatur menyebutnya context diagram (diagram konteks). Ada yang menyebutnya
sebagai Data Flow Diagram Level 0
(disingkat DFD level 0). Terserah, asal konsisten saja. Tapi jangan tanya…
diagram konteks ini bisa bikin mahasiswa ngedumel, jengkel, campur
mangkel…Habis tiap bimbingan sama saya gambar ini yang dicoret melulu. “Salah lagi, salah lagi…. Yang bener
gimana sih, Pak ?”

Orang-orang yang pernah belajar Rekayasa Perangkat
Lunak atau Sistem Informasi pasti akrab dengan istilah Diagram Konteks ini. Diagram
ini digunakan untuk menggambarkan ruang lingkup sistem atau bagaimana sistem
tersebut berinteraksi dengan lingkungannya. Sistem digambarkan dengan bulatan.
Sedangkan lingkungan diwakili oleh entitas luar  yang digambarkan dengan persegi. Interaksi
antara sistem dan entitas luar direpresentasikan oleh aliran data yang
digambarkan dengan anak panah mengalir dari entitas luar ke sistem (sebagai
input) atau sebaliknya dari sistem ke entitas luar (sebagai output). 

Yang menarik menurut saya adalah, pada banyak
literatur, kita tidak boleh menggambarkan aliran data dari entitas luar yang
satu ke entitas luar yang lain. Ini yang sering membuat saya agak kesal setiap
kali melihat kesalahan ini diulang-ulang oleh mahasiswa. Mereka menggambarkan
seluruh interaksi sehingga batasan sistem menjadi kabur. Interaksi antar
entitas luar ini tidak perlu digambarkan karena interaksi tersebut berada di luar konteks
sistem.  Jadi diagram konteks mengajarkan untuk fokus pada
entitas luar yang benar-benar berinteraksi dengan sistem.  Soal apakah
antar entitas luar   saling bertukar informasi, tidak perlu dipedulikan !

Sedang asyik memikirkan diagram konteks tiba-tiba
fikiran saya melocat ke kisah infotainment yang beberapa bulan yang lalu
pernah digugat dan diharamkan oleh fatwa NU. Acara ini dinilai menyuburkan
budaya gosip dan menyebarkan aib orang lain, suatu kebiasaan buruk yang
kontraproduktif. Tapi seperti biasa kalangan pendukung atau konseptor acara
ini  tampil dengan berbagai  dalih dan argumentasi  untuk
meyakinkan bahwa acara ini tetap layak untuk ditampilkan. Entah apa alasannya,
yang jelas banyak ibu-ibu dan remaja-remaja  sampai saat ini masih setia
menikmati acara ini.
        Saya tidak ingin berpanjang-panjang
dengan infotainment, yang ingin saya ceritakan adalah sadar atau tidak
sadar- meskipun tidak pernah sengaja menonton infotainment, saya
ternyata sering memiliki perilaku yang serupa. Di tempat kerja saya  masih
sering begitu ingin membicarakan kelemahan dan kesalahan orang lain. Bahkan
yang terparah adalah saya kadang-kadang masih merasa  begitu gundah dan ingin selalu menyelidiki
urusan orang lain meskipun urusan tersebut tidak berhubungan dengan saya.
Alih-alih memikirkan bagaimana langkah  untuk memperbaiki diri dan
memperbaiki hubungan dengan orang lain, saya justru sibuk memikirkan sepak
terjang orang lain,  ya persis seperti infotainment itu. Dengan begitu energi
dan konsentrasi saya terkuras untuk suatu yang tidak bermanfaat.
Lalu apa yang  saya sisakan untuk membangun potensi saya ?

Wah ! Tampaknya
saya harus merubah sikap saya terhadap para mahasiswa. Lha gimana mau memarahi
mereka yang belum faham mengabstraksikan batasan sistem ke dalam diagram
konteks, sedang saya sendiri masih belum faham esensi diagram konteks. Pantesan
kalau kuliah Rekayasa Perangkat Lunak mahasiswa-mahasiswa saya pada
ngantuk….Terus saya marah-marah sendiri. Terus saya keluar ruangan, minta
perhatian, supaya ada salah satu mahasiswa yang tidur di kelas menghadap saya merengek-rengek
minta dimaafkan.

"Oalah pak Wisnu……. nggak usah deh ngomong
tentang diagram konteks yang katanya interaksi antar entitas luar nggak perlu
digambarkan, kalau Bapak sendiri masih suka mencari-cari tahu apa  yang dikerjakan orang lain. Dan kebangeten
tenan deh, Pak, jika Bapak masih suka mencari-cari kelemahan dan kesalahan orang lain." Tiba-tiba mahasiswa-mahasiswa yang tadi pada jengkel sama saya habis bimbingan, ngrubutin
dan ’ngobrak-ngabrik’ rambut saya yang sudah kucel.

Deg…..Dada saya seperti
mandeg…..Untung hanya khayalan saya sendiri…

Selamat berjuang memperbaiki diri……….:-)

  

Bara Samudra Syuhada (1)

June 19th, 2007 by wisnuak

    Ya, itu adalah nama anakku. Anak kami. Sampai saat ini masih anak satu-satunya. Moga-moga dikaruniai anak satu lagi, dua, tiga, empat, atau lebih. Amiin. Saya menuliskan di sini semata untuk berbagi rasa syukur betapa indahnya punya anak (makanya yang belom nikah tapi sudah mampu cepet-cepet nikah… terus cepet-cepet punya anak, buktikan sendiri…).
    Nama itu merupakan gabungan usulan nama dari saya dan dari istri. Dulu perjanjiannya sebelum punya anak, kalau perempuan yang memberi nama saya, kalau laki-laki yang memberi nama istri. Saya sudah siapkan nama untuk anak perempuan, bahkan puisinya pun sudah ada (habis dari dulu ngebet pengin punya anak perempuan, soalnya keluarga besar saya mayoritas laki-laki, keluarga kandung saya laki-laki semua).  Nama  usulan saya itu Samudra Puspa Kenanga (nama ini saya buat jauh hari sebelum saya mengenal istriku yang bernama Puspa…. dasar sudah jodoh kali..). Sedang istriku yang ingin anak laki-laki mengusulkan nama Bara Syuhada.
    Akhirnya, saat yang dinanti-nanti itu tiba. 10 juni 1999, pas saat azan maghrib, anak pertamaku lahir dengan selamat. Saya menyaksikannya sendiri, bagaimana istriku berjuang sekuat tenaga mengeluarkan jabang bayi yang sepertinya enggan keluar dari rahim ibunya. Kepala anakku sempat keluar dan masuk lagi ke dalam perut ibunya, sehingga istriku hampir kehabisan tenaga. Persitiwa ini membuat saya sangat takjub sekaligus semakin menaruh rasa hormat kepada wanita. Makanya suami-suami yang memiliki istri yang sedang hamil, bulatkan tekad untuk mendampingi istri saat melahirkan. Jika dokter melarang, yakinkan meraka bahwa keberadaan kita di sampingnya akan justru mempermudah proses kelahiran.
    Singkat kata, setelah istri saya lepas dari kepayahan, dia dengan gembira mengatakan dengan mesra, "berarti namanya Bara Syuhada, ya, Mas ?" Dasar laki-laki, masih saja mau menang sendiri. Dengan berdalih bahwa nama itu kurang enak kedengarannya di telinga, saya mengusulkan ada tambahan kata Samudra di antara kata Bara dan Syuhada. Saya, laki-laki,  yang baru saja melihat bagaimana susah payahnya istri melahirkan. Dan baru saja di dalam hati mengikrarkan akan semakin menghormati perempuan, ternyata sudah melanggar komitmen !
    Ah, tapi kan untuk kebaikkan. Dan komitmen kan bisa dikompromikan lagi pikirku. Akhirnya saya meyakinkan istri bahwa nama Bara Samudra Syuhada lebih enak didengar dan lebih gagah. Istriku mengangguk, meski tidak sepenuhnya setuju. Kemudian saya mulai membuat tafsiran-tafsiran (tepatnya ngarang….!). Nama Bara Syuhada menurut istriku adalah semangat seorang syuhada. Istriku ingin anak kami kelak mewarisi semangat  syuhada. Saya kemudian mencoba meyakinkan istriku, Bara Samudra Syuhada memiliki arti yang lebih dari itu. Samudra mengandung makna luas. Jadi Bara Samudra Syuhada artinya semangat beribu-ribu syuhada. Kali ini istriku mengangguk, tersenyum puas.  Ya, gitu… Istri yang baik selalu taat pada suami dan selalu tersenyum meski keinginannya tidak sepenuhnya dipenuhi (hus… dasar laki-laki !)
    Saya ingat pesan guru saya, nama adalah doa. Ini yang kami rasakan. Makanya kami berusaha memberi nama anak saya dengan nama yang baik. Tapi menurut saya tidak harus pakai bahasa arab. Alhamdulillah, kami dikaruniai anak yang luar biasa (Semua anak luar biasa, mereka unik, bahkan anak yang lahir cacat sekalipun !). Anak saya benar-benar memiliki semangat yang menyala-nyala. Alhamdulillah dia bisa bertahan ketika di umurnya yang masih 7 hari bilirubinnya mencapai angka 21. Jika terlambat sedikit saja, mungkin akan naik sampai angka 25 dan ini berbahaya bagi otak. Bara harus dirawat di rumah sakit dan disinari ultra violet selama 5 hari.
    Bara seperti namanya tergolong anak yang tidak bisa diam, sensitif-bahkan kata psikolog cenderung hipersensitif, sering menagis, seperti tidak betah tidur di dalam box. Namun alhamdulillah dia sangat cerdas. Dia sangat cepat faham dengan apa yang diperbincangkan lingkungan sekitarnya. Saya masih ingat ketika suatu sore, seperti biasa, saya menggendongnya berjalan-jalan berkeliling perumahan. Di tengah jalan saya bertemu dengan tetangga. Kami terlibat dalam obrolan ringan, sampai kemudian beliau bertanya, "umur berapa Bara, Pak Wisnu". "Hampir 11 bulan, Pak", jawabku. "Sudah bisa jalan ?" tanya beliau lagi. "Belum, baru merambat saja", jawabku.  "O… anak saya umur 10 bulan sudah jalan, Pak". "Kan tiap anak beda perkembangannya, Pak", jawabku menghibur diri. Saya kemudian pulang dengan perasaan gundah.
    Sampai di rumah saya ceritakan kejadian ini kepada istri. Saya ceritakan juga perasaan saya tersebut. Bagaimana pun wajar tiap orang ingin anaknya bisa melebihi kemampuan anak lainnya. Entah kenapa. Bara seperti mengerti kegundahan hati saya. Saat saya masih berbincang dengan istri, tiba-tiba ia berjalan berputar-putar membentuk lingkaran sambil tertawa-tawa. Saya heran takjub, begitu juga istri saya. Kami bersyukur…. dan saking senangnya hampir-hampir saya mau berlari menuju rumah tetangga ingin mengabarkan bahwa anak saya baru saja bisa berjalan. Saya dan istri kemudian menciuminya berulang-ulang. Betapa indahnya saat-saat seperti ini. Ah, Bara… kamu seperti tahu saja apa keinginan ayah… Seperti sampai saat ini, setiap bunda beli makanan untuk oleh-olehmu, kamu selalu ingat  bagian untuk ayah. Makanya…. ayahmu sekarang gendut ! :( 

Anakmu adalah Benar-Benar Anakmu !

June 14th, 2007 by wisnuak

Dulu, kira-kira lima belas tahun yang lalu. Ketika jalan-jalan menikmati  liburan panjang kuliah di kampungku Gutitan Semarang. Saya dikejutkan oleh suara serak yang memanggil "Wisnu…" Seorang lelaki yang sudah kelihatan tua dengan "pit kebo’ nya (sepeda tuanya) yang masih dibawanya ke mana-mana. Dia ternyata mas Yadi, penjual es batu langganan ibuku. Waktu kecil saya sering disuruh ibu membeli es batu. Wah hebat juga mas Yadi ini masih ingat saya.

Mas Yadi kemudian berhenti. Mengajakku ngobrol. Wajahnya masih tetap seperti dulu hanya sedikit lebih tua. Tenaganya masih kuat. Balok es yang besar itu masih kuat diangkatnya seorang diri. Yang membedakan hanya suaranya yang serak dan hampir tak terdengar. Lirih sekali. Saya tanyakan kenapa suaranya menjadi seperti itu. Katanya ada masalah dengan tenggorokannya. Oleh dokter sudah diberi obat, tapi belum sembuh juga. Akhirnya beliau tidak meneruskan pengobatan lagi. Sayang, katanya. Mendingan uangnya ia gunakan untuk membiayai lima orang anaknya yang mondok di Pesantren. Sambil menyeka peluhnya, ia mengatakan bersyukur masih dapat menyekolahkan anak-anaknya di pesantren dengan hanya bekerja sebagai penjual es Batu. Beliau kemudian pamit. Menggelindingkan kembali ‘pit kebo’ nya. Dan tersenyum dengan senyuman khasnya.

Pertemuan dengan mas Yadi ini kemudian mengingatkan saya pada tulisan Emha Anun Najib di salah satu bukunya yang mencoba memberi tafsiran lain dari puisi Khalil Gibran mengenai anak: "Anakmu bukanlah milikmu. Mereka adalah putra-putri sang hidup yang senantiasa rindu pada diri sendiri……."

Emha dalam bukunya itu menuturkan, puisi Khalil Gibran adalah untuk mengingatkan kita agar berlaku  bijak dalam menyikapi pilihan-pilihan yang ditetapkan anak dalam mengembangkan potensi, kreativitas, dan keahliannya. Tidak sepantasnya orang tua memaksakan keinginan dan harapannya kepada anak, membentuk seluruh dunianya, sehingga tanpa disadari justru mereduksi atau bahkan menghancurkan potensi yang dimiliki anak tersebut. Namun untuk masalah akidah dan akhlak, masalah tujuan hidup, maka puisi Khalil Gibran tersebut harus  dikritisi. Untuk masalah mendasar tersebut,  "anakmu adalah benar-benar anakmu". "Anak kita adalah benar-benar anak kita". Kita harus berupaya keras mengarahkannya. Menjaga akidahnya dan membentuk karakternya !

Pada sisi inilah saya merasakan bagaimana kearifan mas Yadi penjual es Batu membuat pilihan tepat terhadap anak-anaknya di tengah hiruk pikuk kehidupan remaja yang makin jauh dari nilai-nilai. Beliau mungkin tidak pernah membaca puisi Khalil Gibran atau tulisan Emha. Namun dengan segala kesederhanaannya, dengan memasukkan anak-anaknya ke Pesantren, tanpa disadari beliau telah melakukan tindakan  yang brilian yang menggugat pemikiran penyair besar Khalil Gibran tentang anak.  Bahkan untuk itu, demi akidah dan karakter anak-anaknya, beliau rela menomorduakan kesehatannya. Baginya akidah dan akhlak adalah segalanya.

Saya menjadi teringat kembali saat-saat di mana saya menikmati film Bulan Tertusuk Ilalang di sebuah tempat kuliah yang malamnya disulap menjadi tempat pemutaran film di salah satu PTN terkemuka di Bandung. Saya ingat ada sosok seperti mas Yadi yang dimunculkan oleh Garin dalam karakter sosok tua buta penabuh gamelan. Sosok yang sederhana namun kematangan jiwanya  dan keteguhannya memegang prinsip mampu membuat sebuah padepokan seni yang  lesu menjadi bergairah kembali.

Ketika sang guru padepokan wafat. Tidak satu pun baik Bulan maupun Ilalang yang mampu bangkit dari keterpukulan untuk menggantikan sang guru memimpin dan menghidupkan kembali padepokan seni. Ilalang,  meski memiliki bakat seni yang besar tak mampu menghilangkan bayang-bayang sejarahnya yang membuatnya kerdil. Sementara Bulan, seorang wanita yang mengagung-agungkan kebebasan, justru terjebak pada bayang-bayang sang guru yang tanpa sadar mereduksi habis sifat kemandiriannya.

Hanya seorang tua buta yang masih bisa berfikir jernih, seorang pemukul gamelan yang selama ini sama sekali tidak pernah diperhitungkan. Dengan kesederhanaan, kebersahajaan dan keteguhannya memegang prinsip, orang tua buta ini yang kemudian mampu membangkitkan kembali padepokan seni yang hampir mati  menjadi hidup dan lebih semarak.

Ya, orang tua buta yang tiap hari dan tiap malam di kala sepi memukul-mukul gamelan untuk dicocokkan suaranya dengan suara gamelan standar !

Terima kasih mas Yadi………

Apakah Kita akan Berhenti ?

June 11th, 2007 by wisnuak

    *untuk siapa saja yang senantiasa berusaha memperbaiki diri

Apakah kita akan berhenti

hanya karena bunga mawar tak mekar

atau melati yang kemarin mengembang layu kembali ?

Apakah kita akan berhenti

seperti halnya semesta yang tak pernah berhenti menari

kita pun tak kan pernah berhenti

Tak !